TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Pendidikan

Bantu Peternak, Mahasiswa UGM Kembangkan Aplikasi Bantuternak

06/06/2017 - 16:41 | Views: 19.89k
Bantuternak, Aplikasi Penghubung Peternak dengan Pemodal (Foto: istimewa)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Sebuah aplikasi investasi sosial berbasis peternakan berhasil dikembangkan oleh mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Yopgyakarta. Aplikasi yang dinamai Bantuternak ini dikembangkan dalam rangka membantu peternak mendapatkan modal usaha.

Ray Rezky Ananda, Hanifah Nisrina, Ayub, dan Fata membangun startup ini melalui ajang ajang Innovative Academy 3 UGM. Berawal dari keprihatinan terhadap perkembangan peternakan di Indonesia, mereka mengembangkan startup ini.

CEO Bantuternak, Ray Rezky menuturkan, salah satu kendala yang dihadapi peternak adalah modal usaha untuk membeli anakan sapi. Disamping itu, ketidakseimbangan pasokan daging menyebabkan Indonesia mesti mengimpor sapi dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan nasional.

“Sekitar 30 persen daging masih impor, bahkan di tahun 2016 tercatat Indonesia harus mengeluarkan anggaran 1 triliun untuk impor sapi ini,” ungkap Ray Rezky di Ruang Fortakgama UGM, Senin (5/6/2017) seperti dikutip dari laman ugm.ac.id.

Berangkat dari hal itu, dia bersama tiga rekannya menginisiasi pengembangan bisnis sosial berbasis teknologi untuk membantu peternak.

Dia menjelaskan, investasi di Bantuternak dengan memberikan satu sapi setiap ada investor masuk. Investasi yang ditawarkan di sini, mulai dari nominal Rp10 ribu dengan masa investasi 5 bulan.

“Nantinya 1 sapi dengan paket harga Rp12 juta termasuk pakan dan vaksinasi akan dipelihara peternak selama 5 bulan untuk kemudian dijual kembali,” jelasnya.

Hanifah menambahkan, investor dapat melihat dan memilih peternak juga memantau perkembangan ternaknya. Ada laporan secara berkala yang memaparkan kondisi ternak, mulai status kesehatan, berat badan, pakan, vaksin, hingga perkiraan harga jualnya.

Mengenai hasil dan keuntungan penjualan, akan dibagi dengan persentase 70 persen investor, 20 persen peternak, dan 10 persen Bantuternak. 

Ditambahkan, melalui aplikasi ini, pihak yang berinvestasi akan mendapat keuntungan sekaligus membantu memberdayakan dan meningkatkan kesejahteraan peternak. Diharapkan, aplikasi ini menjadi salah satu solusi mengurangi impor daging sapi.

Aplikasi Bantuternak dirilis di playstore akhir Mei 2017 lalu. Hingga saat ini, sudah menggandeng 30 investor dan melibatkan 15 peternak sapi.

“Semoga ke depan bisa berjalan bekelanjutan untuk mendukung program swasembada daging nasional dan meningkatkan perekonomian peternak desa secara mandiri,” tutupnya. (*)

Jurnalis: Ferry Agusta Satrio
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Ahmad Sukma
Sumber :
Top

search Search