TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Ketahanan Informasi
Ketahanan Informasi Parawisata

Menelusuri Kampung Naga; "Haram" Pakai Listrik dan Gas Elpiji

06/12/2017 - 11:55 | Views: 43.29k
Kampung Naga ini terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. (FOTO: Adi Sugiyono/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Namanya unik. Kampung Naga. Tapi jangan salah, bukan berarti kampung ini penuh naga lho, tapi malah menjadi kampung yang menyenangkan untuk melepas lelah.

Kampung Naga ini terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Sebuah kampung yang asri, alami, indah, dan tentu masih orisinil. Persis seperti kampung asli zaman old.

Anda mau ke sana? Yess. Jika kiti ingin berkunjung ke Kampung Naga tidak perlu membayar tiket masuk. Tapi perlu diingat, TIMES Lovers menyarankan jika ingin berkunjung ke Kampung Naga ini agar tidak datang pada hari Selasa, Rabu, atau Sabtu. 

Sebab pada hari-hari tersebut masyarakat Kampung Naga sedang melakukan ritual menyepi. Yakni, usaha menghindari perbincangan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan adat istiadat dan asal-usul kampungnya.

Untuk ke Kampung Naga tidak perlu repot-repot guys. Karena letak kampung ini dekat dengan akses Jalan Raya Garut, Tasikmalaya. Praktis, kampung ini mudah untuk diakses menggunakan kendaraan pribadi maupun angkutan umum.

Dari jalan raya, Kampung Naga hanya sekitar 500 meter. Tidak jauh kan?

Nah, jika di tempuh dari Kota Tasikmalaya, ke Kampung Naga sekitar 30 kilometer. Sedang dari Kota Garut sekitar 26 kilometer. Jika TIMES Lovers ada di Bandung, Anda harus menempuh jarak 90 kilometer untuk ke Kampung Naga.

Ini neh guys, yang unik di Kampung Naga. Para penduduk kampung ini sangat kukuh mempertahankan tradisi bentuk bangunan rumah mereka. Model rumah mereka dari dulu tidak berubah. Dan memang “haram” jika diubah.

Model bangunan di Kampung Naga ini tersusun panjang dengan bahan dari bambu dan kayu serta atap terbuat dari ijuk dan tepus. Selain “haram” mengubah bangunan, warga Kampung Naga juga “haram” menggunakan listrik ke Kampung Naga. Adat tidak membenarkan penggunaan listrik di kampung ini.

Pertimbangan para pemuka adat adalah agar menjaga agar tidak terjadi ketimpangan sosial di warga masyarakat Kampung Naga jika menggunakan listrik. Selain itu gas Elpiji juga tidak digunakan. Adat tidak boleh menggunakan Elpiji. Mereka hanya bisa menggunakan kayu bakar.

Kehidupan di Kampung Naga bergantung pada alam sekitar mereka. Mulai padi, palawija, dan ikannya pun dari sungai. Begitu pula pemanfaatan sumber daya alam, semuanya untuk kerajinan dari bahan bambu, kayu dan rotan.

Kondisi Kampung Naga yang masih orisinil ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Selain itu, nilai trasisi dan budaya yang dipertahankan warga Kampung Naga sering menjadi bahan riset dan penelitian para akademisi.

Keunikan lain dari Kampung Naga ini, kita akan menuruni tangga yang berkelok kelok mirip ular naga. Karena kampung ini terletak di lembah Sungai Ciwulan. So, pokoknya full tradisional ketika kita sampai pada Kampung Naga. (*)

Penulis: Adi Sugiyono (CR-096)
Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Ahmad Sukma
Sumber :
Top

search Search