TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Peristiwa - Daerah

Soal Rencana Penutupan Angkutan Online, Ini Kata Warga Probolinggo

12/12/2017 - 13:42 | Views: 3.88k
Sopir angkot Probolinggo saat aksi menolak angkutan online (FOTO: Happy/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, PROBOLINGGO – Soal rencana penutupan angkutan berbasis online oleh Pemkot Probolinggo, memunculkan pendapat beragam dari warga.

Ada yang pro, dan ada yang kontra dengan penutupan itu sendiri. 

Pasca ada kepastian soal draf pelarangan angkutan berbasis online oleh pemkot, Timesindonesia.co.id berusaha merangkum suara yang terdengar di kalangan masyarakat.

Berdasarkan keterangan seorang pegawai salah satu provider telepon selular, Dianita (25), warga Kecamatan Kanigaran menyebut, antara angkutan konvensional dan angkutan berbasis online, sebetulnya bisa saja sama-sama beroperasi.

“Ya melihat tingkat efisiensinya juga sih. Karena semakin ke sini, penumpang juga butuh yang cepet dan efisien. Beda dengan angkutan konvensional, yang jelas sudah ada jalurnya,” katanya.

Lebih lanjut, dara berhijab ini menyebut, dengan adanya angkutan berbasis online, dia merasa terbantu. Terlebih ketika butuh untuk menjangkau tempat kerjanya, dari rumah. Di mana jalur tersebut, tidak dilalui oleh angkutan konvensional.

“Sangat terbantu sekali, dengan angkutan online aku bisa turun depan rumah atau depan kantor langsung, konvensional gak bisa,” sambungnya.

Hal senada juga diutarakan oleh Christiana (54), warga kelurahan Tisnonegaran. Nenek lima cucu ini, pun mengaku terbantu dengan adanya angkutan online.

“Dengan adanya smartphone, kita bisa bepergian ke tempat yang sebelumnya tidak terjangkau angkutan konvensional. Seperti dari perumahan Asabri, ke perumahan Pakistaji. Kalau naik angkutan konvensional, harus jalan kaki dahulu. Tidak bisa naik dari depan rumah,” katanya.

Namun ada pula yang masih puas dengan pelayanan dan fasilitas dari angkutan konvensional. Salah satunya, Rohim (35), warga jalan Soekarno Hatta.

Ia setiap hari ia memanfaatkan angkutan kota untuk berangkat maupun pulang kerja.

“Karena memang antara rumah dengan tempat kerja dilewati jalur angkota. Tiap hari ya saya manfaatkan. Lebih simple dan tidak ribet,” sebutnya.

Dari 20 komentar yang dihimpun Timesindonesia.co.id, 14 responden mengaku sangat terbantu dengan adanya angkutan berbasis online. Sementara sisanya, mengaku masih suka memanfaatkan angkutan konvensional sesuai kebutuhannya.

Kesimpulannya, kedua jenis angkutan ini sebetulnya bisa berjalan berdampingan. Sebab para penumpang atau konsumen, memiliki tingkat kebutuhan masing-masing. Selain itu, ditengah perkembangan jaman seperti saat ini, juga masih banyak warga yang belum menggunakan telepon pintar atau smarthphone. (*)

Jurnalis: Happy L. Tuansyah
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Rochmat Shobirin
Sumber :
Copyright © 2017 TIMES Indonesia
Top

search Search