TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Peristiwa - Nasional

Bangun Islam Moderat, Ulama Jordan Siap Bekerjasama dengan Ulama Indonesia

12/12/2017 - 21:29 | Views: 1.85k
Ketua Komisi Fatwa, Jordania saat saat menerima Anggota Komisi Dakwah MUI, KH. Muhammad Nur Hayid di Kantor Darul Ifta, Amman, Jordania. (FOTO: istimewa)

TIMESINDONESIA, JORDAN – Dalam rangka menjaga Ukhuwwah Islamiyyah dan Islam yang ramah dan toleran, diperlukan persatuan ulama yang sepaham untuk bergandengan tangan. Darul Ifta Kerajaan Jordan atau semacam MUI nya Indonesia siap membangun kerjasama dan saling tukar pikiran terkait bagaimana cara membangun pemahaman keislaman dan dakwah Islam Wasatiyyah atau Islam rahmatan lil alamin.

Ulama Jordan Siap Menerima Ulama Indonesia dari MUI dan Nahdlatul Ulama serta ulama yang berpaham wasatiyah lainnya.

“Kami semua sangat senang dengan upaya-upaya membangun kerjasama dan taawun alal birri wattaqwa dengan semua ulama kaum muslimin di dunia ini. Wabil khusus  dengan Indonesia, karena kami tahu Umat islam di Indonesia ini jumlahnya terbesar di dunia, tentu kami sangat terbuka dan marhaban, serta ahlan washlan jika akan ada kunjuangan dari MUI ke Jordan,” kata Grand Mufti Of Hashemate Kingdom Of Jordan atau Syekh Darul Iftanya Kerajaan Jordan Syekh Dr. Muhammad Ahmad  Khalayleh. 

Hal itu disampaikan Syekh Khalaylah yang didampingi dengan para masyayikh Darul Ifta lainnya seperti Ketua Komisi Fatwa, dan para ketua dan pimpinan darul Ifta lainya saat saat menerima Anggota Komisi Dakwah MUI, KH. Muhammad Nur Hayid di Kantor Darul Ifta, Amman, Jordania beberapa waktu lalu.

Gus Hayid panggilan Muhammad Nur Hayid datang didampingi oleh Perwakilan dari Kedubes RI di Amman, Jordania, Dr. Suseno yang merupakan Atase Ketenagakerjaan di KBRI Amman.

Dalam pertemuan itu dibahas isu-isu kaum mengenai masalah kaum muslimin yang terjadi diberbagai belahan dunia, mulai dari isu ekonomi kaum muslimin yang secara rata-rata dibawah kelompok non muslim. Selain itu juga dibahas soal lemahnya persatuan dan kebersamaan antara kaum muslimin, akibatnya umat Islam mudah diadu domba dan dipecah belah. 

Ditambahkan lagi oleh Grand Mufti, mulai massif dan banyaknya pemahaman keagamaan yang ekstrem dan berlebihan atau tasyaddud yang menjadi cikal bakal munculnya konflik berkepanjangan juga perlu disikapi. Sebab, seharusnya jika umat islam bersatu dan tidak membesarkan perbedaan khilafiyyah, niscaya Islam akan menjadi berwibawa dan disegani 

“Apa yang terjadi di kawasan  Timur Tengah dan dunia arab pada umumnya saat ini merupakan wujud lemahnya persatuan kaum muslimin, termasuk banyak berkembangnya pemahaman keagamaan yang mudah menkafirkan orang lain. Sehingga, umat mudah disulut permusuhan karena kondisi ekonomi yang juga mempengaruhi,” terang Sekjen Lembaga Fatwa Darul Ifta Syekh Dr. Ahmad Alhasanat  Yang mendampingi Grand Syekh.

Menanggapi Hal itu, Gus Hayid juga menceritakan fenomena yang sama yang juga terjadi di Indonesia.  Belakangan ini banyak juga kelompok-kelompok tertentu sangat keras menentang cara berislam dan berama yang sudah dianut oleh mayoritas kaum muslimin Indonesia. Padahal problem pokoknya bukan pada masakah ushuliyyah, tetapi masalah furu’iyah.

“Kami juga menghadapi hal yang sama syekh soal ancaman ekstrimisme kanan dan kiri. Ekstrimisme kanan mengajak kepada orang-orang untuk mengkafirkan sesama kaum muslimin yang tidak sealiran dan sepemahaman dengan mereka, kestrim kiri mengajak bersikap liberal dan bahkan anti agama melalui gearkan amsif di media maupun perusakan moral dengan narkoba dan semacamnya,” terang Gus Hayid menanggapi sharing soal maslah keummatan.

Atas Dasar itulah, lanjut Grand Syekh, diperlukan upaya kongkrit untuk terus membangun dan menjalin sinergi dakwah yang tepat dan pas serta kongkrit bisa dirasakan oleh umat. Oleh karena itulah diperlukan kerjasama yang erat antara lembaga semacam darul Ifta dan MUI untuk bersama-sama mengatasi masalah umat dengan mengunakan pemahaman dan pemikiran islam wasatiyyah.

“Kita tidak bisa sendir-sendiri menghadapi tantangan dan ancaman terhadap pemahaman islam yang rahmatan lilalamin ini dan perusakan moral kaum muslimin yang akhirnya membuat umat islam mudah dipecah belah. Kita harus bersama-sama mengatasinya,” terang Belaiu yang diamini oleh Gus Hayid dan rombongan.

Pertemuan ini digelar karena adanya rencana Komisi Dakwah MUI Pusat pimpinan KH Cholil Nafis akan melakukan Rihlah Ilmiah dalam rangka membangun kerjasama sekaligus saling belajar mengenai sistem berdakwah di era modern di berbagai dunia islam dan sekaligus sistem lembaga semacam MUI merespon problematika umat.  Rihlah Ilmiah ini juga direncanakan ke Mesir, Arab Saudi dan Turki selain ke Jordania. Acara ini direncanakan digelar bulan Maret Akhir atau April awal 2018. 

Menanggapi rencana penguatan kerjasama antara ulama Indonesia dengan Ulama Jordan, Dubes RI untuk Aman, Jordania Andi Rahmianto menyambut baik upaya tersebut. Pihak pemerintah melalui kedutaan besar di Jordan siap memfasilitasi dan membantu penguatan kerjasama antara para kedua negara dalam menguatkan pemahaman keilaman yang moderat atau wasatiyah yang kalau di inonedsia disebut Islam Rahmatan Lilalamin.

“Kami sangat senang mendengar rencana itu. Sudah barangtentu kami pasti mendudkung setiuap upaya posisif yang dibangun oleh para ulama kedua negara dalam rangka merekatkan hubungan antara kedua bangsa dan kedua negara sekaligus dalam rangka menangkal pemahana islam ekstrem dan mengembangkan islam yang damai, islam rahmatan lil alamain,” terang diplomat yang sudah bertugas di berbagai pos penting dan strategis, khususnya di Amerika ini. (*)

Jurnalis: Busri Toha
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Rizal Dani
Sumber :
Copyright © 2017 TIMES Indonesia
Top

search Search