TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Pendidikan

Aptisi Batasi Jumlah Maba, Rektor ITS Tegaskan Tak Akan Kurangi Kuota

13/12/2017 - 07:32 | Views: 4.98k
Rektor ITS, Prof Ir Joni Hermana.(FOTO: Istimewa)

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Menanggapi keinginan Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) mengenai pembatasan jumlah mahasiswa baru Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Prof Ir Joni Hermana MScEs PhD menegaskan bahwa ITS akan tetap mempertahankan kuota penerimaan mahasiswa baru (maba). 

Menurut Joni, hal ini dikarenakan Indonesia saat ini masih kekurangan sarjana sains dan sarjana teknik. Joni meyakini yang dimaksud dengan pengurangan kuota maba adalah mahasiswa dari kelompok program studi (prodi) sosial, politik, budaya, hukum, dan humaniora.

Hal ini tercermin dari persentase lulusan prodi tersebut yang mencapai 60 persen tiap tahunnya. Sementara jumlah lulusan sains dan teknologi hanya berkisar 20 persen dari total wisudawan perguruan tinggi di Indonesia.

“Kami masih akan tetap mempertahankan jumlah kuota penerimaan maba untuk saat ini, mengingat Indonesia masih memerlukan banyak sarjana sains dan teknik,” tandas guru besar Departemen Teknik Lingkungan ITS ini, Selasa (12/12/2017).

Pengurangan kuota maba PTN, lanjut Joni, tidak akan lantas meningkatkan jumlah mahasiswa perguran tinggi swasta (PTS). “Jika dikalkulasi, jumlah PTS di Indonesia saat ini sebanyak 4.300, sementara yang diminta mengurangi kuota maba hanya sekitar 140 PTN. Jumlah tersebut sangatlah tidak sebanding,” terang Joni.

Lagi pula, imbuh Joni, melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi merupakan hak setiap siswa di Indonesia. Artinya, para siswa tersebut tidak boleh dipaksa untuk masuk ke perguruan tinggi mana, apalagi dengan kapasitas dosen dan fasilitas yang sangat berbeda. 

Melihat hal tersebut, Joni menganggap tidak perlu ada pembatasan maba yang diterima PTN sesuai apa yang diusulkan Aptisi. Terlebih, PTN juga mempunyai standar baku tentang berapa kapasitas mahasiswa yang dapat diterima. Semua telah dihitung berdasarkan rasio dosen, fasilitas ruang kelas, serta laboratorium dan peralatan. 

Joni kemudian mencontohkan situasi di Tiongkok yang hanya memiliki 2.500 perguruan tinggi. Padahal, jumlah penduduk negeri Tirai Bambu tersebut mencapai 2 miliar jiwa. Sementara Indonesia dengan jumlah penduduk 260 juta malah mempunyai perguruan tinggi yang mencapai angka lebih dari 4.400.

“Sudah jelas tidak efisien, jadi kita tidak bisa menyalahkan mahasiswa atas kurangnya jumlah penerimaan maba di PTS,” tutur orang nomor satu di ITS ini mengingatkan.

Rencana pengurangan kuota penerimaan maba di PTN ini bermula dari gelaran Rembuk Nasional Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) di Jakarta, akhir November lalu. Ketua Umum Aptisi, Prof Dr Ir Budi Djatmiko, meminta pemerintah mengurangi jumlah penerimaan maba di PTN.

Sat itu, menurut Budi, PTN cukup menerima 3.000 hingga 3.500 mahasiswa strata satu setiap tahunnya.  Sehingga harapnya, pengurangan ini akan menjadikan PTN fokus mengelola mahasiswa strata dua dan strata tiga. Dengan meningkatkan pengelolaan mahasiswa magister dan doktoral tersebut, ia yakinPTN akan jauh lebih siap menjadi institusi berkelas dunia. (*)

Jurnalis: Lely Yuana
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Rochmat Shobirin
Sumber :
Copyright © 2017 TIMES Indonesia
Top

search Search