TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Wisata
Berburu Pesona Alam Laboan Bajo (4)

Reptil Komodo Tak Lepas dari Legenda Ratu Naga dan Sultan Bima

19/12/2017 - 17:30 | Views: 7.83k
Reptil Komodo di Laboan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). (FOTO: Imadudin/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, MANGGARAI BARAT – Menikmati pesona alam di Laboan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), tak akan lengkap bila tak berkunjung di Pulau Komodo. Tempat habitat sekaligus Taman Nasional kadal raksasa di dunia Komodo.

Untuk dapat singgah di Pulau Komodo, membutuhkan waktu perjalanan 2 jam dari pelabuan Beli. Tempat tinggal ini juga memiliki cerita rakyat atau legenda Putri Naga di Pulau Komodo.

Kisah putri Komodo, berawal dari seorang Putri Naga yang menikah dengan seorang pria yang bernama Majo lalu kemudian melahirkan sepasang bayi kembar yang ternyata seorang bayi laki-laki dan seekor komodo. 

Bayi laki-laki, yang dinamai Si Gerong, tinggal dan besar di lingkungan manusia. Sedangkan bayi Komodo diberi nama Orah yang hidup dan diasingkan di dalam hutan.

Reptil-Komodo-Flores.jpg

Setelah beranjak dewasa, Gerong menjadi pemuda yang tangkas dan pandai berburu. Suatu hari, Gerong pergi berburu rusa di hutan. 

Pada saat ia berhasil menombak dan akan mengambil rusa buruannya itu tiba-tiba seekor kadal raksasa menyergap dan memakan binatang hasil buruannya. 

Gerong lalu mencoba untuk mengusir kadal tersebut, tapi sia-sia. Karena kadal itu berdiri tegak di atas bangkai rusa tersebut. Gerong yang merasa buruannya diambil memutuskan untuk mengejar dan hendak membunuh kadal raksasa itu.

Di tengah usahanya itu, muncullah seorang wanita yang bersinar yakni Putri Naga, ibu sang Komodo. Putri Naga pun memisahkan keduanya dan menerangkan bahwa Gerong dan Orah bersaudara.

"Jangan bunuh, dia saudaramua. Kalian adalah saudara kembar," kata Patris, pramuwisata, pada TIMES Indonesia (timesindonesia.co.id) saat menjelajah Pulau Komodo, ‎Sabtu (18/12/2017) lalu, bersama STPP Malang.

Cerita inilah yang membuat, masyarakat di Pulau Komodo memperlakukan Komodo dengan baik. Komodo bebas berkeliaran di dalam hutan dengan memangsa babi hutan, rusa, serta binatang hutan lainnya. 

Sementara itu, kisah lain juga diterangkan bahwa hewan reptil terbesar di abad ini yang telah menjadi “The Seven Wonder “ versi UNESCO ini pertama kali ditemukan oleh Sultan Bima.

Temuan ini diperkuat dengan temuan arsip Residen Timor tertanggal 30 Desember 1914 No. 4031/40. Arsip ini berisi tentang hubungan yang dijalin Sultan Bima, kekuasaan di Manggarai, dan menerbitkan UU perlindungan terhadap hewan purba tersebut. 

Menurut penelusuran TIMES Indonesia (timesindonesia.co.id), isi surat tersebut menerangkan Sultan Bima ingin melindungi Komodo sebagai hewan langka dan wajib untuk dijaga kelestarianya. Sultan Bima ketika itu, menerbitkan UU perlindungan terhadap Komodo. Ada 5 pasal yang saling berkaitan satu pasal dengan pasal lainnya. 

Dalam naskah tersebut Sultan Ibrahim memerintahkan kepada semua masyarakat yang berada sama dengan komunitas komodo membiarkan hewan tersebut hidup secara bebas dan melarang memburu apalagi merusak habitat dan semua tindakan yang akan mengancam kelangsungan habitat Komodo. 

"Pertama kali ditemukan oleh Sultan Bima, yang akhirnya membuat aturan untuk melindungi Komodo, sebelum kembali ditemukan oleh bangsa Inggris yang melakukan ekspedisi," ungkap Yono, ranger yang turut mengawal penjelajahan pulau Komodo.

Naga dari Indonesia, Komodo, dikenal di dunia ilmu pengetahuan sejak tahun 1911 ketika Peter Ouwens, seorang kurator pada Museum Zoologi Bogor, menerima laporan dari Perwira Pemerintah Hindia Belanda J.K.H. Van Steyn.

Kemudian, satwa asli Indonesia ini selanjutnya diberi nama Varanus komodensis Ouwens pada tahun 1912. Nama ini termaktub pada tulisan Pieter Antonie Ouwens yang berjudul "On a Large Species from The Island of Komodo". 

Agar bisa melihat Komodo, di Pulau Komodo, ada tiga jalur yang bisa dipilih. Yakni jalur Short Track, Medium Track, dan Long Track. Setiap track membutuhkan waktu jelajah paling singkat satu jam dan terjauh 4 jam. 

Dalam melakukan penjelajahan, para wisatawan diharapkan membawa topi dan air minum, karena cuacanya sangat panas. (*)

Jurnalis: Imadudin Muhammad
Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Rochmat Shobirin
Sumber :
Copyright © 2017 TIMES Indonesia
Top

search Search