TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Peristiwa - Daerah

Polres Malang Selesaikan Sengketa Tiga Tahun Dalam Satu Jam

13/02/2018 - 20:21 | Views: 6.42k
Sengketa lahan yang berlangsung selama tiga tahun diselesaikan di forum pertemuan Coffe Moorning Mapolres Malang ini. (FOTO: Polres Malang)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Sengketa obyek sebuah bangunan rumah yang terletak di desa Gading, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang yang telah berlangsung selama tiga tahun, antara Sutrianingsih Ulfa dengan Parhat alias H. Rouf akhirnya bisa tuntas hanya dalam tempo satu jam. 

Kok bisa? 

Ya, sebuah mediasi sederhana yang dilakukan jajaran petugas Polres Malang, Selasa (13/2/2018) pagi lewat forum coffee moorning di Cafe Markisah Polres. Mediasi membuat para pihak yang bersengketa itu akhirnya bisa memahami kedudukan masing-masing dalam koridor hukum. 

Dipimpin oleh Wakapolres Malang Kompol Decky Hermansyah, SH.MH dengan didampingi Kabag Ops Polres Malang, Kompol Sunardi Riyono, acara itu berlangsung gayeng. Ada 24 orang yang hadir dalam acara itu termasuk Wakapolres dan Kabag Ops. Mereka yang bersengketa berasal dari wilayah RT 14 RW 4 Desa Gading Kecamatan Bululawang. 

Dulunya bangunan yang disengketakan para pihak itu telah bersertifikat SHM No.841 tahun 1998 a.n H. Abdul Syukur (almarhum),mantan suami Sutrianingsih Ulfa. Pernikahan Abdul Syukur dg Sutrianingsih Ulfa dikaruniai 2 orang anak yg saat ini masih usia dibawah umur. 

polres-malang.jpg

Sebelum H.Abdul Syukur meninggal dunia (bulan Agustus 2014) terjadi perceraian, dan Sutrianingsih beserta kedua anaknya pindah rumah dan kemudian numpang ikut org tua kandungnya. 
Rumah yang ditinggalkan Sutrianingsih itu kemudian dikuasai Parhat, keponakan Abd Syukur.

"Pengadu sudah beberapakali meminta kepada Parhat agar meninggalkan rumah tersebut, karena akan ditempati pengadu bersama kedua anaknya (selaku ahli waris), namun tidak pernah diindahkan dengan alasan bahwa rumah tersebut bukan milik H.Abdul Syukur melainkan diakui milik Hj. Nurlaila, tante dari Parhat," ujar Sunardi Riyono kepada TIMES Indonesia (timesindonesia.co.id), Selasa (13/2/2018) sore. 

polres-malang2.jpg

Hingga akhirnya Sutrianingsih mengadu dan minta bantuan kepada sebuah LSM untuk mengusir Parhat. Mengetahui peristiwa yang berpotensi menimbulkan konflik horizontal tersebut akhirnya Kapolsek menghubungi Kabag Ops yang kemudian selanjutnya kedua pihak di undang di acara coffee morning guna dibantu mencarikan solusinya.

Setelah diberikan penjelasan dan beberapa pertimbangan baik dari aspek sosial, hukum agama dan hukum pemerintah/negara, akhirnya Parhat bersedia meninggalkan rumah tersebut dan minta waktu dua minggu terhitung sejak hari Selasa (132/2018). Sutrianingsih sendiri akhirnya juga menyetujui.  Persoalan itu selain dilaporkan kepada Kapolres Malang AKBP Yade Setiawan Ujung SH juga kepada Kapolda Jatim. (*)

Jurnalis: Widodo Irianto
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Ahmad Sukma
Sumber : TIMES Malang
Top

search Search