TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Peristiwa - Daerah

Kepala BI Jatim Sebut Pertanian Organik Bondowoso Sebagai yang Terbaik

07/06/2018 - 11:51 | Views: 1.68k
Kepala Bank Indonesia Jatim Difi Ahmad Johansyah didampingi Plt Sekeretaris daerah dan beberapa peserta diskusi Pertanian Organik, memamerkan poduk Beras Organik di Desa Lombok Kulon (FOTO: Moh Bahri/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, BONDOWOSO – Kepala Bank Indonesia (BI) Jawa Timur (Jatim), Difi Ahmad Johansyah menyebut pertanian organik Bondowoso, adalah yang terbaik.

Hal itu, disampaikan saat melakukan kunjungan dan diskusi bersama yang bertemakan “Akselerasi Ekspor Beras Organik Koperasi Albarokah”, Desa Lombok Kulon, Kecamatan Wonosari, Bondowoso.Pertanian Organik Lombok Kulon, di bawah binaan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Albarokah, sudah menghasilkan produk pertanian organik dengan sertifikasi ekspor.

Bupati-AMin.jpg

“Terus terang, ini bagi saya adalah yang terbaik. Tugas selanjutnya bagi saya sekarang adalah, tinggal mempromosikannya,” ungkapnya, Rabu (6/6/2018).

Promosi yang dimaksudkan adalah dengan inovasi. "Artinya, jangan sampai berhenti hanya di pertanian saja. Tapi, harus berkembang pada hal-hal lain. Seperti pengembangan pupuk organik, dan lain-lain yang berkaitan. Termasuk  pengolahan sampah organik, juga harus menjadi bagian kehidupan sehari-hari, masyarakat Lombok Kulon,” ucapnya.

Sebelum melakukan kunjungan, dan berdiskusi soal pertanian organik di Lombok Kulon, rombongan Bank Indonesia juga menemui Bupati Bondowoso, Drs H Amin Said Husni, di Pendopo.

Plt Sekretaris Daerah, Karna Suswandi berharap, BI terus memberikan perhatian pada pengembangan pertanian organik.

“Karena bagaimanapun, Bondowoso akan terus mengembangkan pertanian organik ini, secara maksimal,” terangnya.

Karna menambahkan, bukan hanya beras organik yang mendapatkan sertifikasi internasional, tapi juga kunyit dan jahe.

“Ke depan, produk-produk pertanian di Bondowoso akan dijadikan produk organik. Sehingga orang mengenal Bondowoso dengan organiknya,” imbuh Karna.

Kurniatik, salah seorang petugas penyuluh lapangan (PPL), dari Dinas Pertanian yang bertugas di Desa Lombok Kulon mengungkapkan, bahwa lahan yang telah mendapatkan sertifikasi oleh Control Union mecapai 20,96 hektare.

“Dan dalam sehektarnya, rata-rata bisa menghasilkan gabah sawah sebesar 7,2 ton. Adapun jika diconvert dalam bentuk beras, susut menjadi 45 samapi 50 persen,” terangnya.

Turut serta hadir dalam dalam diskusi pertanian organik itu, Kepala perwakilan Bank Indonesia Jember, Hestu Wibowo, dan kepala Disperta Bondowoso, Munandar SP.(*)

Jurnalis: Moh Bahri
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Sholihin Nur
Sumber :
Top

search Search