TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Peristiwa - Nasional

Pondok Pesantren Itu Soko Guru Pendidikan Indonesia

20/06/2018 - 15:30 | Views: 32.00k
Menpora DR H Imam Nahrawi saat bersilaturahmi dengan para ulama NU se amalang Raya sekaligus meresmikan lapangan basket di Ponpes Modern Al Rifa'ie Gondanglegi. (FOTO: Widodo Irianto/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, MALANGMenpora, DR.H.Imam Nahrawi S.Ag, M.KP mengatakan pondok pesantren itu menjadi tempat pendidikan yang paling awal, soko guru, pondasi di negeri ini.

Penegasan itu disampaikannya saat menghadiri Silaturahmi Ulama dan Tokoh NU se Malang Raya di Pondok Modern Al-Rifa'ie 2 , Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Rabu (20/6/2018) siang.

Menpora-DR-H-Imam-Nahrawi-2.jpg

Siang itu, Menpora juga meresmikan lapangan basket yang dibangun atas prakarsa pengasuh Pondok Pesantren Modern Al-Rifa'ie 2, Dr.KH.Ahmad Muflih Azam SE.MM. Peresmiannya ditandai dengan penandatanganan prasasti, potong tumpeng dan penyerahan simbolis bola basket dari Nahrawi kepada Ahmad Muflih.

Beberapa menit sebelumnya forum tersebut sempat digunakan untuk acara Silaturahmi & Halal Bi Halal Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) dan Taman Pendidikan Al-Qur'an se Malang Raya yang dihadiri calon Gubernur Jawa Timur, Drs.H.Saifullah Yusuf.

Alumni pesantren, lanjut Nahrawi sudah bertebaran di semua tempat. Mulai jadi ulama, kiai, pemimpin, bupati, wali kota dan juga jadi menteri dan sebagainya. "Itu artinya pondok pesantren menjadi soko guru atau pondasi di Indonesia. Karena pondasinya kuat, maka alhamdulillah generasi yang dilahirkan juga kuat, hebat dengan keilmuan yang luar biasa ditambah paling utama adalah ahlaknya," katanya.

Menpora-DR-H-Imam-Nahrawi-3.jpg

Forum tersebut beberapa menit sebelumnya juga sempat digunakan untuk acara Silaturahmi & Halal Bi Halal Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) dan Taman Pendidikan Al-Qur'an se Malang Raya yang dihadiri calon Gubernur Jawa Timur, Drs.H.Saifullah Yusuf.

Meski demikian, walau pondok pesantren telah menjadi fondasi akhlak anak, lanjut Imam Nahrawi, zaman sekarang orang tua harus tetap mau mengambil peran. Ini karena zaman sekarang tantangannya luar biasa. Khususnya dalam bidang teknologi.

Nahrawi menambahkan, orang tua tidak bisa melarang mereka untuk berkutat dengan benda yang bernama handphone, karena peradaban sekarang diperoleh dengan digitalisasi lewat handphone itu.

Menpora-DR-H-Imam-Nahrawi-4.jpg

"Namun kepada para orang tua saya menghimbau agar sering-sering melirik hp anak-anaknya untuk mengawasi konten apa saja yang dibuka itu. Jangan sampai anak-anak kita lepaskan begitu saja apalagi melihat konten-konten negatif. Misalnya berita hoaks, fitnah yang kemudian dilihat, didengar, diresapi dan diyakini begitu saja oleh anak-anak kita," tegasnya.

Meski demikian Nahrawi menegaskan  kaum santri jebolan mulai diniyah, takmiliyah dan senagainya, jangan pernah berkecil hati. "Kita harus yakin, optimis karena masa depan Indonesia itu ada di tangan kaum santri," ujarnya.

Nahrawi lantas mencontohkan, bahwa 12 orang Menteri Kabinetnya Jokowi saat ini semuanya jebolan pondok pesantren. "Suatu saat saya bertanya kepada Presiden, mengapa bapak mempercayai saya sebagai Menpora padahal dulu ketika di pondok kalau bermain bola saja dari sarung yang kami gulung menjadi bola," kata Nahrwi.

Jawaban Presiden, kata Nahwari, itu rahasia. "Namun yang pasti saya percaya kepada santri kalau memimpin. Karena santri itu sudah didoktrin sama gurunya, kiainya, gus-nya, bu-nyainya untuk terus tatak dan taat," ujar Nahrawi menirukan ucapan Presiden. 

Kalau sudah ke barat, santri itu tidak akan noleh-noleh. Itulah sebabnya Jokowi akhirnya banyak menunjuk santri sebagai menterinya. Itu artinya, lanjut Nahrawi, jadi menteripun jangan berkecil hati.

"Karena masa depan itu yang menjamin adalah Allah. Yang penting memberi manfaat dimanapun posisinya," katanya lagi.

Kepada para orang tua, Nahrawi juga menghimbau agar segera memasukkan putra putrinya ke Pondon Pesantren.(*)

Jurnalis: Widodo Irianto
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan
Sumber : TIMES Malang
Copyright © 2018 TIMES Indonesia
Top

search Search