TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Peristiwa - Daerah

Mau Pakai Solar Cell atau Diesel? Begini Debat Komisi VI dan Dirut PLN

12/07/2018 - 06:43 | Views: 21.33k
Anggota Komisi VI dari Fraksi Partai Amanat Nasional (F-PAN) Mohammad Hatta berbaju Putih (FOTO: Alfi Dimyati/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Partai Amanat Nasional (F-PAN) Mohammad Hatta mempertanyakan rencana PLN (Persero) yang akan menggunakan listrik berbasis diesel dan atau genset untuk listrik perdesaan dari dana PMN 2019.

Pasalnya, startegi PLN itu sangat memboroskan duit rakyat dan dia khawatir PLN akan terus mengalami kerugian.

"Pak Sofyan tadi ngomong listrik ini akan berbentuk diesel atau genset. Bapak kan tahu risiko itu sangat besar dan mahal. Kenapa tidak dipikirkan menggunakan solar cell atau solar panel," cecar Wakil rakyat dari Dapil Jateng V (Solo, Klaten, Boyolali, dan Sukoharjo) kepada Direktur Utama PLN, Sofyan Basir di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (11/7/2018).

Menanggapi pertanyaan itu, Dirut PLN Sofyan Basir pun mengakui bahwa penggunaan genset dan diesel sangat tidak efisien. Investasinya akan gagal atau tidak balik modal.

"Bapak bilang ini tidak efisien. Benar pak ini sangat tidak efisien pak. Kalau PLN ditanya mau tidak? PLN pasti jawabnya sebenarnya itu tidak mau. Karena begitu satu rumah kami siapkan lampu maka terjadi kerugian pasti pak dan tidak akan kembali investasinya," kata dia.

"Tapi dia (rumah yang dialiri listrik menggunakan genset atau diesel) sebagai warga negara berhak mendapatkannya. Itu kadang-kadang dilema Pak. Bagi kami pak, tapi hari ini kita enggak bicara telur dan ayam. Kami tidak bisa memilih, tapi kami pasrahkan nanti setelah terjadinya," jawabnya.

Sofyan menerangkan, memang saat ini menggunakan teknologi terbarukan seperti solar panel atau solar cell bisa lebih murah. Akan tetapi, kata dia, dengan menggunakan solar panel atau solar cell maka listrik tak akan hidup selama 24 jam dan harga baterainya saat ini juga sangat mahal.

Untuk solar panel, kata dia sangat bergantung pada sinar matahari untuk bisa menjadi listrik. Padahal, kata dia, efektifnya cahaya sinar matahari diserap oleh panel tersebut hanya untuk 4 Jam, sementara kebutuhan listrik masyarakat adalah 24 Jam.

"Kita berbicara teknologi apa yang kita pakai. Memang saat kita diskusi dengan orang solar. Kita hybrid dengan diesel. Solar ini mataharinya hanya 4 jam. Habis itu dia mati dan 4 jam. Ini siang pak justru malam yang kita butuh," katanya.

Begitu juga dengan sollar cel, menurut dia, dalam hal biaya perawatan solar cell beserta baterai penyimpan daya listriknya jauh lebih mahal.

"Begitu (juga) dengan baterai. Luar biasa harganya mungkin pak. Mudah-mudahan lebih cepat dari 10 tahun industri. Baterai ini sudah sangat maju Pak dan sangat murah," jawabnya.

"Dan kalau itu terjadi nanti pak, memang pasti kita akan pindah ke teknologi baru terbarukan. Yaitu dengan baterai. Tapi hari ini Pak, dalam 1 tahun ke depan mereka harus nyala Pak. Kalau bisa 24 jam pak. Tidak ada jalan lain, yaitu sementara pakai diesel," tambah dia.

Tak puas dengan jawaban Sofyan, Hatta pun kembali mengorek lebih dalam ikhwal strategi pilihan PLN tentang pembangkit listrik.

"Saya setuju Pak dengan omongan yang Anda sampaikan. Cuma kan ini pilihan teknologi. Menurut saya solar sel itu efisien gitu loh. Itu kan cuma ditancepin aja. Nggak perlu pakai jaringan. Nggak perlu dan sebagainya. Bapak katakan tadi 4 jam itu di mana? Hanya 4 jam ada matahari (di mana)?," tegas Hatta.

"Matahari (memberikan cahaya) untuk efektifnya 4 jam pak," jawab Sofyan singkat.

"Nggak pak, nggak. Karena saya itu pasang solar cell juga di Australia. Saya punya rumah di Perth (buktinya nyala 24 Jam)," tegas dia.

Menurut dia, pilihan strategi pembangkit listrik yang dilakukan PLN sangat tidak masuk akal. Sebab, selain sangat ketinggalan zaman dan pemborosan, negara juga menjadi terlihat tak memiliki gaya.

"Sekarang pemerintah Australia lebih gila-gilaan lagi dalam melakukan efisiensi energi. Artinya apa? Itu sudah pilihan bagi mereka. Dan yang paling efisien untuk saat ini adalah solar cell. Mengapa kok itu tidak jadi pilihan bagi Bapak. Itu pertanyaan saya. Bapak boleh bilang ini itu dan sebagainya. Tapi itu kan juga salah satu benchmark pada sebuah negara. Bagi sebuah negara, dalam melakukan suatu kajian dan untuk menentukan sesuatu. Jadi saya minta tolong dikaji," tegas Hatta.

"Kajiannya ini dibawa ke sini pak, untuk kita bisa memberikan persetujuan. Apakah itu masuk akal atau itu memang masih perlu dikaji begitu Pak Sofyan," cecar dia.

Menanggapi cecaran bertubi-tubi itu, Sofyan pun mengaku memiliki kajian yang sudah matang. Bahkan dari kajiannya itu, dia juga telah mencoba menggunakan solar panel. Namun hasilnya belum memuaskan.

"Kajiannya ada Pak. Kalau boleh, saya tambahkan sedikit ada kok yang pakai solar Pak. Memang ada yang belum bisa mendapatkan sampai malam. Jadi dia hanya mendapatkan siang," klaimnya.

"Hanya siang saja. Kalau malam tidak bisa. Mohon maaf Pak. Yang kita bicarakan ini untuk 24 jam dia nyala. Hybrid ya pak. Jadi selnya itu tetap harus ada Pak. Memang mahal. Jujur Pak kalau misalnya seperti yang sekarang kita lagi bangun ada beberapa solar yang besar Pak. 50 Mega. Di atas Waduk Cirata. Floating PV itu hanya 6 sen pak. Murah Pak. Tapi ya begitu. Dia sangat terpisah-pisah Pak dan volumenya sangat kecil. Jadi lebih mahal dia Pak. Itu pasti kami sudah kaji Pak," tambah dia.

"Tapi secara progress nanti (kajiannya) akan kami berikan kepada bapak," ucapnya.

Sekedar informasi, PLN (Persero) mengajukan usulan Penyertaan Modal Negara kepada BUMN atau suntikan modal negara ke BUMN (PMN) untuk tahun 2019 sebesar Rp 15 triliun kepada Komisi VI DPR RI.

Suntikan modal tersebut, kata Sofyan, rencananya akan digunakan untuk belanja modal dalam proyek sektor pembangkit transmisi dan distribusi termasuk di dalamnya pelaksanaan program listrik desa dengan total perfungsi sebanyak 8.566.

Lantaran pilihan pembangkit listriknya dinilai kuno dan terlalu mahal serta alasannya kurang jelas, anggota komisi VI DPR Mohammad Hatta ini pun mempertanyakan rencana PLN dalam penggunaan dana PMN tersebut. (*)

Jurnalis: Alfi Dimyati
Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Sholihin Nur
Sumber :
Copyright © 2018 TIMES Indonesia
Top

search Search