TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Opini

Terorisme, Hilangnya Akal Sehat dan Cinta

17/05/2018 - 00:13 | Views: 26.52k
Angga Purwancara. (Grafis TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, JAKARTASEBUAH bom meledak di tiga Gereja, di Kota Surabaya, Kota Pahlawan, kotanya Arek-arek Bonekmania. Ledakan bom dilakukan oleh terduga teroris. Betapa kagetnya saya pagi itu, panik, mumet, njelimet, campur aduk, spontan dan langsung menghubungi salah satu saudara yang tinggal di Surabaya.

Nada tersambung tapi call center menjawab “nomor yang anda hubungi tidak menjawab". Saya terus mencoba, mencoba dan mencoba. Namun, belum genap 10 menit disusul ledakan Bom yang kedua. Tak berselang lama, Bom meledak lagi untuk yang ketiga kalinya.

Kalimat Astagfirullah hal adzim. Tak berhenti terucap dari mulut saya. Kalimat Thayibah itu sembari terus menekan nomor tujuan pada layar Handphone yang saya genggam.

Seperi diketahui, tiga bom meledak di tiga lokasi berbeda. Tepatnya di Jalan Ngagel, Jalan diponegoro dan Jalan Arjuna. Yang semuanya adalah tempat ibadah, Gereja. Akibatnya, Surabaya berubah mencekam. Warga pun berhamburan.

Puluhan korban berjatuhan. Beberapa diantaranya tewas di tempat kejadian. Korban yang luka butuh pertolongan. Korban selamat lari tunggang langgang. Sebagian warga yang kebetulan melintas juga panik mencari Ambulans.

Ya, saya masih terus kepikiran. Keringat mulai bercucuran. Khawatir terhadap hal-hal yang tak saya inginkan. Dan Alhamdulillah, saudara saya mengangkat telephone dan memastikan posisinya sedang ada di rumah dalam keadaan baik-baik saja.

Maklum, setiap minggu pagi, biasanya ia memang rutin beribadah di Gereja. Walau saudara beragama berbeda, tapi tetap menjaga keharmonisan dan saling cinta. Saling menjaga. Saling menyelamatkan antar sesama. Saling membuat aman. Saling membuat nyaman. Karena kami terlahir ditakdirkan sebagai saudara.

Surabaya sebagai ibu kota Provinsi Jawa Timur, sebagai barometernya Indonesia. Selama ini dikenal adem ayemtoto tentrem.

Namun, hari itu sedang dirundung duka. Duka yang mendalam. Amat dalam. Sedalam palung didasar samudera. Peristiwa teror Bom kali ini benar-benar memberikan traumatis yang mendalam bagi warga Surabaya dan bahkan rakyat Indonesia.

Tak sedikit warga yang histeris dan takut untuk keluar rumah. Bahkan, sejumlah pusat perbelanjaan (Mall) yang biasanya ramai oleh budaya konsumtif. Hari itu, Minggu, 13 Mei 2018, hingga dua hari berturut-turut seolah tak berpenghuni. Terlihat Sepi, senyap dan bahkan suwung.

Sementara pelaku Bom bunuh diri alias Teroris, ternyata masih satu keluarga. Terdiri dari ayah, ibu dan empat anak, dua laki dan dua perempuan. Ya Allah, saya cukup kaget. Sangat kaget. Usai mengetahui bahwa tragedi kejam yang tidak berperikemanusiaan itu telah melibatkan anak-anak yang tidak berdosa. Anak-anak yang masih sekolah. Anak-anak yang lugu dan masih polos wajahnya.

Anak-anak yang tidak tahu apa-apa. Anak-anak yang masih butuh asupan cinta. Logika saya pun sempat Error (berhenti). Tak habis pikir. Dan tak bisa mikir. Anak sekecil itu kenapa harus jadi korban propaganda oleh kelompok Fundamental. Kelompok radikal. Kelompok Ekstrem. Kelompok yang kerap mengatasnamakan Agama untuk kepentingan semata.

Lalu pertanyaan yang muncul dibenak saya, Dimana letak akal sehat kedua orang tuanya? Dimana letak hati nuraninya? Dimana letak sanubarinya? Dimana letak Ruh Rabbani mereka? Entahlah. Yang jelas saya tak bisa berpikir soal kejadian itu.

Amat disayangkan jika generasi emas bangsa dan negara harus mati sia-sia oleh kedunguan otak dari para orang tua. Ketidakpahaman orang tua memaknai Agama. Kesalahan orang tua mencari guru dalam penegakkan Aqidah.

Akibatnya, hilang rasa cinta dalam jiwa mereka. Karena yang tumbuh dan berkembang hanyalah tebaran kebencian semata. Dengan prinsip dan keyakinan bahwa hanya kami yang benar, sementara yang lain salah. Kami lah yang mulia, sementara yang lain hina. Kami lah ahlul jannah (ahli Surga) dan yang lain lebih pantas masuk neraka. Padahal Surga dan Neraka itu hak preogratif Allah SWT semata.

Tragedi terorisme yang terjadi menjelang bulan Ramadhan. Nampaknya cukup menambah beban psikologis masyarakat dibelbagai lapisan dan sejumlah aparat keamanan.

Bagaimana tidak, biasanya mereka tengah disibukkan dengan persiapan ritual keagamaan. Saling bermaaf-maafan. Perlahan-lahan mulai menata hati dan pikiran. Berusaha meningkatkan iman dan ketaqwa'an. Tapi kini mereka justru saling meningkatkan kewaspadaan akan bahaya ancaman.

Disisi lain, setelah aksi teroris itu, sejumlah pengamat pun mulai buka suara tentang penanganan terorisme. Banyak pendapat. Banyak kalimat. Banyak cara pandang. Banyak interpretasi. Banyak argumentasi. Banyak analisis tapi substansinya tetap sama.

Salah satunya tentang Keamanan Nasional yang tidak lagi secara parsial dipahami sebagai penjagaan patok-patok perbatasan. Melainkan harus dipahami secara komprehensif, yang meliputi human security (keamanan insani).

Sebab, perang pun berubah wajahnya. Perang tak lagi dipahami sebagai sesuatu yang berhadapan dengan objek konkrit (musuh didepan mata), melainkan objek konseptual (terorisme).

Dalam sebuah buku, Filsafat Intelijen. Karya Purn Jenderal TNI, Prof AM Hendropriyono menjelaskan bahwa perang melawan terorisme adalah upaya menciptakan dan mempertahankan tata sosial tertentu (kedamaian).

Oleh karena itu, acap kali perbuatan teror menuntut kebijakan dalam anggaran sekaligus produk hukum. Perang melawan terorisme menjungkirbalikkan perbedaan antara hubungan internasional dengan politik nasional.

Perbedaan antara pertahanan dengan keamanan menjadi kabur, bahkan lenyap. Operasi militer dengan penegakan hukum bagai 2 sisi dari mata koin yang sama. Tak ada lagi musuh luar dengan musuh dalam.

Di titik inilah perlu ditemukan perang intensitas rendah (low intensity warfane) dengan penegakan hukum berintensitas tinggi (high intensity law enforcement). Perang terhadap terorisme akan melahirkan konsep-konsep baru.

Seperti, program deradikalisasi, seminar Islam Kebangsaan dan lain sebagainya. Ancaman yang datang tanpa jeda, memerlukan kecepatan dan ke-akuratan dalam mendeteksi potensi bahaya atau materialisasi ancaman.

Velox (kecepatan) dan exactus (keakuratan) adalah substansi dalam sebuah praktik Intelijen. Sementara, Kapolri, Jenderal Prof Tito Karnavian menegaskan, bahwa Intelijen sempat kecolongan. Kemampuan para teroris kian terlatih. Bahkan, mereka memiliki buku panduan (Manual) untuk menghindari deteksi Intelijen dan meng-counter interogasi aparat keamanan di Indonesia.

Adapun akar persoalannya, secara normatif teks-teks agama apapun bersifat ambivalen (bermakna ganda).

Disatu sisi bisa menebar kedamaian karena pesan suci perdamaian. Tapi disisi lain juga bisa rentan memicu konflik dan kekerasan karena pesan-pesan tekstualitasnya yang mengandung kekerasan.

Dalam konteks Islam, beberapa teks yang memicu lahirnya perilaku biadab oleh kelompok radikal, antara lain ada pada teks tentang jihad. Yang kemudian disistemisasi sebagai ideologi.

Inilah latar belakang masalah yang sebenarnya. Para Calon pengantin bom bunuh diri tidak memahami betul tafsir tentang Jihad. Mereka belajar tafsir tapi tak memahami Asbabun Nuzul. Mereka belajar hadits tapi tak memahami Asbabul Wurud.

Intinya, mereka tidak mau belajar. Intinya mereka mau se-enaknya sendiri. Inginnya hanya masuk surga secara instan tanpa mengkolaborasikan kebenaran, kebaikan dan keindahan. Sehingga, mereka sangat dungu. Tak paham kalau bom bunuh diri itu hanya diperbolehkan dalam keadaan darurat. Terdesak. Kepepet. Terancam.

Dan itu jelas hanya boleh dilakukan saat di medan perang. Bukan dalam suasana kedamaian. Misalnya, seorang pejuang muslim di Palestina yang tertangkap tentara Zionis Israel. Ia boleh melakukan bom bunuh diri dengan pertimbangan membela Tanah Air. Sebab, jika ditangkap dia akan disiksa habis-habisan.

Maka, mati bersama musuh yang menangkapnya adalah pilihan terbaik. Sama halnya dengan salah seorang santri Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Santrinya MbahHadratus Syeikh KH Hasyim Asy'ari, Pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Demi Kota Surabaya. Demi Indonesia. Demi Tanah Air. Demi ibu pertiwi.

Yang saat itu baru saja Merdeka. Ia nekat masuk ke zona Bahaya. Masuk ke dalam Ring satunya Tentara Inggris (sekutu) yang kala itu melakukan invasi ke Surabaya. Santri tersebut mengorbankan dirinya untuk mengusir para penjajah. Hanya seorang diri ia meledakan bom tepat dibawah mobil yang ditumpangi oleh Brigjend Mallaby.

Sudah barang tentu, teks tidak boleh ditafsirkan secara mentah. Apalagi tekstualnya dicomot dari kontekstual aslinya. Kemudian dipraktikkan. Diterapkan. Di masa yang aman. Masa yang damai. Masa yang sentosa. Gemah Ripa Loh Jinawi Toto Tentrem Kerto Raharja seperti sekarang ini.

Kegagalan memahami dan menafsirkan teks dari konteks inilah yang membuat mereka tiba-tiba membawa bom, lalu bunuh diri dengan meledakkan bom dalam kerumunan. Baik kaum muslim maupun non muslim yang sedang beribadah. Sedang mencari nafkah.

Berjuang demi sesuap nasi untuk keluarga. Berjuang untuk mengamankan situasi negara. Alhasil menjadi korban yang tak berdosa. Islam tak pernah mengajarkan kebencian. Keserakahan. Kekerasan. Kebrutalan. Kekejaman. Kekejian dan Ketidakmanusia'an.

Sebab, Islam adalah Rahmatan Lil Alamin. Menyayangi dan melindungi semua makhluk di semesta ini. Kalau saja Allah SWT mau semua penduduk di muka bumi ini muslim. Cukup "Kun Fayakun" maka jadilah semua manusia di bumi ini menjadi muslim. Karena hanya Allah SWT sang pemilik “Kun Fayakun”.

Tapi Allah SWT menciptakan Keanekaragaman. Keberagaman. Perbedaan. Ketidaksama'an. Dengan kata lain, Allah ingin kita Litaarufu. Maka, Presiden RI ke-4, Almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah mengatakan bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk menyulut konflik dan perpecahan.

Justru perbedaan seharusnya menjadi katalisator (Reaksi Cepat) untuk memahami anugerah Allah yang begitu nyata dan Konkrit untuk senantiasa merajut keharmonisan hidup bersama, berbangsa dan bernegara. Kami Rakyat Indonesia. Bersatu Cinta Indonesia. (*)

 

*Penulis, Angga Purwancara, seorang Jurnalis TV9 NUsantara yang kini tinggal di Gresik, Jawa Timur.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis:
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Rizal Dani
Sumber :
Top

search Search