TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Ketahanan Informasi
Catatan Sanusi, Humas Kebun Raya Purwodadi LIPI

Gempa Lombok, Mangrove, dan Kebun Raya Lemor

08/08/2018 - 23:16 | Views: 9.82k
Sanusi, Pranata Humas Kebun Raya Purwodadi LIPI. (Grafis: TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Pemberitaan berbagai media hari-hari ini dipenuhi dengan kabar bencana di Lombok. Gempa di kawasan Lombok yang berpotensi tsunami menjadi headline di berbagai media dunia (6/8/2018). Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisoka (BMKG) menjelaskan sumber gempa tersebut akibat lokasi sesar yang sampai ke laut sehingga dapat menyebabkan terjadinya tsunami.

Sementara, peneliti Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Danny Hilman menjelaskan, gempa yang terjadi pada hari Minggu (5/8) disebabkan oleh adanya satu bidang patahan dengan kemiringan 30 derajat yang bergerak dua hingga tiga meter. Lokasi sesar atau patahan itu sekitar satu kilometer dari lepas pantai di Lombok Utara.

KebunRayaLemorLombok.jpgSalah satu sudut menarik di Kebun Raya Lemor Lombok (lipi.go.id)

Berbagai media sosial 1-2 hari ini pun menyoroti bencana ini dengan berbagai sudut pandang. Di antaranya ada pula yang menggunakan kacamata bahkan alat politik. Hiruk pikuk ini terlontar begitu saja.

Sebagai salah satu pranata humas di sebuah balai konservasi tumbuhan saya mencoba beropini melalui media ini. Tidak dari sisi politik apalagi untuk menanggapi isu yang ada. Tetapi berbagai informasi perkebunrayaan dan tumbuhan serta kegiatan lembaga tempat saya bernaung (LIPI) salah satu satuan kerjanya ada juga di Lombok.

Perlu diketahui, Balai Pengembangan Bio Industri Laut (BBIL-LIPI) telah berhasil mengembangkan inovasi teknologi yang disebut budidaya TERBARU, yang merupakan kombinasi multikultur dari teripang, bandeng, dan rumput laut spesies Gracilaria sp. (lipi.go.id).

Selain lebih ramah lingkungan, budidaya TERBARU juga memiliki produktivitas dan nilai ekonomi yang lebih baik dibandingkan dengan budidaya secara terpisah.

Di samping sumber daya terbarukan tersebut, Lombok yang merupakan salah satu destinasi wisata tingkat internasional yang kian memukau. Terlebih jika pantainya tetap terlindungi dengan pohon-pohon bakau ataupun pepohonan dan semak-semak lainnya yang tumbuh di daerah yang terkena pasang surut air laut atau kalangan ilmiah menyebutnya dengan istilah Mangrove.

Istilah Mangrove ini tidak hanya tertuju pada satu jenis atau tumbuhan tertentu, seperti bakau.  Bakau adalah jenis Mangrove tropis dari genus Rhizophora (jurnalbumi.com). Hutan Mangrove yang salah satunya bagiannya adalah bakau ini mempunyai banyak manfaat.

Berbagai sumber ilmiah menyebutkan, disamping sebagai tempat hidup udang dan kerang serta berbagai jenis biota laut maupun darat, ekosistem Mangrove dapat  menahan sedimen terlarut dari sungai yang dapat memperkecil erosi atau abrasi pantai, menahan badai atau angin kencang dari laut. Tidak hanya itu ada manfaat lain yang sangat menarik,  ternyata hutan bakau dapat meredam tsunami.

"Hutan Bakau Benteng Peredam Gelombang Tsunami"

Itulah sebuah judul video yang bisa kita temui di AntaraTV (30/7/17). Adanya kejadian tsunami atau berita tsunami sebaiknya mengingatkan kita pada salah satu penghadang gelombangnya, yakni hutan bakau atau yang lebih luas dari itu disebut hutan Mangrove.

Video yang didalamnya merupakan peliputan kegiatan pendidikan lingkungan yang dilaksanakan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu ini  menjelaskan tentang pentingnya pelestarian hutan Mangrove menjadi benteng hijau, sebagai pelindung dataran pesisir pantai dari ancaman gelombang tsunami.

Jurnalis dan pemerhati lingkungan hidup Fred Pearce, dalam salah satu artikelnya pada newscientist berjudul Mangrove Forest Planted as Tsunami Shield (2014) menyebutkan : “Mangroves in front of settlements resulted in 8 per cent fewer casualties during the tsunami”.

Setidaknya, hutan Mangrove dapat mengurangi derasnya gelombang laut yang menerpa dan memberi harapan atau peluang menghindari tsunami serta menambah ketenangan penduduk di suatu pemukimin penduduk.

Pearce mengutip sebuah hasil penelitian yang menunjukkan hasil analisis citra satelit yang dilakukan oleh Juan Carlos Laso Bayas dari Universitas Hohenheim, Stuttgart, Jerman. Penelitian tersebut menemukan pemukiman di belakang hutan bakau bertahan paling baik pada saat terjadi bencana tsunami sekitar 14 tahun lalu.  

Eko Yulianto, Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, dalam sebuah diskusi di University Club (UC) UGM tahun lalu menyampaikan keberadaan Mangrove di sepanjang pantai Thailand Selatan pada saat di terjang gelombang tsunami tahun 2004 tidak sampai memunculkan korban.

Sebagai negara dengan panjang garis pantai yang mencapai 95 ribu kilometer, Indonesia memiliki ekosistem Mangrove mencapai 3,49 juta hektare atau 23 persen dari keseluruhan luas ekosistem Mangrove dunia (lipi.go.id).

Sayangnya, walaupun kebijakan pemerintah tentang pemanfaatan  lahan  hutan  Mangrove  sering  dibicarakan   dalam   pertemuan ilmiah dan disosialisasikan kepada masyarakat pantai,  namun  sampai  saat  ini  masih  tetap terlihat  pemanfaatan  lahan  Mangrove  yang  semakin meningkat dan beragam.

Program rehabilitasi pesisir melalui penanaman Mangrove menjadi sangat penting. Karakteristik lahan dan pemilihan jenis juga menjadi penting. Kementerian Kelautan dan Perikanan telah melakukan rehabilitasi pesisir dengan menanam 3 jenis bakau  yaitu Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, dan Rhizophora stylosa pada tahun 2016 di beberapa bagian pantai Lombok Barat (http://bpspldenpasar.kkp.go.id).  

Tetapi tidak akan kalah penting lagi adalah memberikan pemahaman kepada masyarakat dan generasi muda untuk menyadari pentingnya konservasi.

LIPI bekerjasama dengan Pemeritah Kota Surabaya telah melakukan nota kesepahaman pada akhir bulan April lalu terkait Kebun Raya Mangrove. Kebun Raya Mangrove Surabaya ini akan menjadi pusat konservasi Mangrove pertama di Indonesia bahkan Asia.

Pendidikan lingkungan sebagai salah satu tugas dan fungsi Kebun Raya harus terus didorong untuk menyadarkan masyarakat luas akan pentingnya konservasi, baik ex-situ maupun in-situ, baik di hutan pantai maupun hutan pegunungan, baik Surabaya maupun Indonesia, bahkan Asia.

Kebun Raya Lemor Lombok

Ada isu yang lain selain gempa Lombok. Kebun Raya Lemor di Lombok akan dilaunching tanggal 8 Agustus, sehari sebelum tulisan ini dibuat. Dengan diiringi do'a agar bencana berakhir dan penanganan pasca bencana dapat berjalan lancar, penulis juga berharap Kebun Raya Lemor akan menjadi Kebun Raya yang mendunia. Sebagaimana Kebun Raya lainnya.

Kebun Raya Lemor memiliki tema "Tumbuhan kepulauan Sunda Kecil (Lesser Sunda Islands).   Kebun Raya Lombok menempati lahan sekitar 125 hektar dengan kontur tanah berbukit rendah dan diharapkan dapat menjadi salah satu pusat keberdayaan warga yang terintegrasi dalam pengembangan kawasan (DAS) melalui kolaborasi multipihak yang sinergis (lipi.go.id).

Pentingnya konservasi dan pengetahuan termasuk di dalamnya tentang berbagai pohon penangkal tsunami, longsor atau bencana serta fungsi kelestarian alam dan lingkungan dapat disampaikan melalui pendidikan lingkungan.

Pembaca yang budiman, kelestarian alam dan pepohonan serta keragaman manfaatnya ternyata merupakan suatu kesatuan yang utuh. Semua saling terkait. Dampak bencana, bahkan awal dari bencana terkadang diakibatkan oleh kurangnya kita dalam menjaga kelestarian alam. Keseimbangan antara pemanfaatan yang berkelanjutan dan kesadaran pentingnya konservasi menjadi sangat penting.

Lagi-lagi pendidikan lingkungan jangan diremehkan. Peran serta dinas-dinas di daerah seperti yang dilaksanakan Dinas Pendidikan Kota Malang yang bekerjasama dengan Kebun Raya Purwodadi LIPI yang baru-baru ini menandatangani nota kesepahaman (18/7) dapat menjadi langkah strategis dalam pendidikan lingkungan kepada generasi penerus. Ayo, bapak-ibu guru ajak anak didiknya belajar ke kebun raya-kebun raya terdekat. (*)

Sanusi adalah Pranata Humas Kebun Raya Purwodadi LIPI

Penulis: Sanusi (CR-89)
Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Rochmat Shobirin
Sumber :
Copyright © 2018 TIMES Indonesia
Top

search Search