TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Ketahanan Informasi

Di Unisma Malang, Kiai Tholhah Paparkan Tips Menjadi Generasi Millenial

14/09/2018 - 02:09 | Views: 10.08k
Prof. Dr. KH. M. Tholhah Hasan saat menjadi narasumber dalam kuliah umum yang digelar oleh Fakultas Agama Islam Unisma Malang Kamis (13/9/2018). (FOTO: ajp.TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, MALANG – Fakultas Agama Islam Unisma Malang menggelar Studium Generale atau kuliah umum dengan narasumber Prof. Dr. KH. M. Tholhah Hasan, Kamis (13/9/2018). Kiai Tholhah mengangkat tema Menjadi Generasi Milenial yang Berpikir Global dan Bergaya Lokal Berdasar Islam Aswaja.

Kiai Tholhah Hasan memulai perkuliahannya dengan statement Globalisasi, dhahiruhu ni'mah wa baathinuhu adzab. Kata Kiai Tholhah dalam memahami Islam itu harus melalui 3 pendekatan.

Pertama, doktrin Ahlussunnah wal Jamaah harus terus digaungkan, karena doktrin itulah yang sesuai dengan Islam Indonesia. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu Aswaja yang kita anut juga ikut berkembang menyesuaikan tradisi dan modernisasi.

Unisma-2.jpg

Kedua, historis/ kesejarahan dulu zaman Nabi sudah ada doktrin menjalankan Ibadah tarawih (belum dilakukan secara massif/ jamaah), baru dilakukan secara jamaah pada zaman Khalifah Umar bin Khattab dan dilakukan di masjid yang imam pertamanya adalah Ubay bin Ka'ab. Ritual tarawih dilaksanakan 36 rakaat, pada zaman itu.

Ketiga, kultural/ budaya sampai pada khalifah ke empat, tidak ditemukan masjid yang memakai menara. Baru kemudian pada masa selanjutnya masjid diberi menara. Ini menandakan bahwa kultur masyarakat terus berubah seiring dengan gesekan masyarakat dan zaman. Perjalanan pemahaman Islam yang terjadi merupakan dinamika kultural yang niscaya terjadi.

Lantas bagaimana dengan zaman globalisasi ini? Kiai Tholhah menjelaskan globalisasi juga membawa perubahan dalam perkembangan pemahaman Islam. Arus globalisasi terjadi setelah Barat terbebas dari pengaruh gereja dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Sehingga, muncullah globalisasi yang membawa dampak kehidupan pada dunia modern.

Di negara Arab sendiri terjadi DeWahabisasi yang diprakarsai oleh Putra kerajaan Abdullah bin Salman, karena pikiran-pikiran Wahabi perlu dirombak sesuai dengan tuntutan zaman. Orang merasa bangga jika bisa meniru orang lain yang dianggap lebih maju. "Hidup kita di zaman Globalisasi ini adalah serba meniru, dan Indonesia termasuk negara yang pandai dalam meniru," tegas Kiai Tholhah.

Diakhir pemaparannya, Kiai Tholhah memberikan tips dalam mencari ilmu. Sebagai seorang akademisi, maka di kalangan masyarakat Sunni, itu ada tradisi bahwa untuk mencari ilmu tidak cukup dengan ta'allum, tapi juga harus dibarengi dengan taqarrub.

"Jika kedua cara itu dilaksanakan secara beriringan, maka akan menjadi akademisi yang bermutu," tegasnya.

Ia menjelaskan ilmu itu terbagi menjadi 3 menurut Al Ghazali, yaitu Ilmu Jaaliy (ilmu katon), adalah ilmu yang dapat diperoleh dengan ta'allum, asalkan dilakukan dengan tekun dan teliti. Ilmu Khafiy (ilmu tersembunyi), ilmu yang didapat dengan cara taqarrub dan pembersihan hati rangka memperoleh pancaran ilmu langsung dari Allah ta'ala. Dan Ilmu Laadunniy (ilmu yang tidak disangka), ilmu ini diperoleh dengan dua pendekatan (taqarrub dan ta'allum), sekaligus ilmu ini adalah pemberian langsung dari Allah, dan tidak dapat diprediksi perolehannya.

Lebih dari 500 mahasiswa nampak antusias mengikuti Studium Generale dengan narasumber Prof. Dr. KH. M. Tholhah Hasan, yang digelar Unisma Malang.(*)

Penulis: Inda Purwati (CR-057)
Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Sholihin Nur
Sumber :
Copyright © 2018 TIMES Indonesia
Top

search Search