TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Opini

Ninabobo NKRI Harga Mati

29/11/2018 - 11:17 | Views: 52.50k
Ach Dhofir Zuhry, pendiri STF AL-FARABI dan pengasuh Pesantren Luhur Baitul Hikmah Kepanjen-Malang. (Grafis: TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, MALANG – Saya, Anda, dan mungkin bersama para penghayat demokrasi lainnya di Nusantara ini, kerap tertawa sendiri, kadang saya terpingkal geli dan terbahak keras, lalu terdiam, diam yang paling sunyi, sampai ke jantung sepi. 

Harus diakui, kita bangsa Indonesia punya selera humor tinggi, sehingga, karena oknum-oknum tempurung jahat pengelola Negeri, baik elit politik, ekonomi, elit agama, kebudayaan dan bahkan pelawak sendiri, sulit tertawa, maka tugas tertawa itu dibebankannya kepada lebih dari 260 juta rakyat Indonesia. Ini jawaban dari mengapa banyak tingkah-polah para poli-tikus menjadi bahan tertawaan seluruh rakyat Indonesia. 

Para pejuang demokrasi di negeri ini mulai mengering air matanya kerana tangis tak berkesudahan, ironi-ironi pembangunan merebak menggerogoti ideologi garuda - setiap anak muda ingin menjadi artis dan politikus. 

Tak hanya itu, oknum ilmuwan dan akademisi terus membaptis diri menjadi cendikiawan menara gading dengan tingkat kepusingan ilmiah paling memuakkan. Sama dengan politikus, mereka kerap bicara yang mereka sendiri tidak mengerti dan orang lain tidak paham. 

Tiba-tiba, setelah bangsa ini dikepung dari berbagai penjuru ibarat hidangan yang dikerumuni mulut-mulut yang serakah dan lapar, terdengar teriakan "NKRI harga mati" di mana-mana. So what gitu loh?

Memang, bangsa ini sangat kreatif, pada saat yang sama paling senang membual dan aneh-aneh, bahkan sampai tingkat paling absurd dan konyol. Persis ketika menghadiri tahlil pada hari ketiga wafatnya Gus Dur, salah seorang di antara kami berteriak, "hidup Gus Dur! hidup Gus Dur!" Saya memaklumi itu sebagai ekspresi cinta. Apapun itu, semangat, etos dan eros seorang Gus Dur tetap hidup dan menyala bagi para pecintanya.

Nah, di antara kreativitas bangsa Indonesia adalah semaraknya perayaan Hari Santri-yang belakangan telah menjadi komoditas politik, gerakan sarungan dan tentu saja ramainya poster, pamflet dan pekik "NKRI harga mati" di dunia maya dan nyata.

Adalah pendiri pesantren Al-Muttaqin Pancasila Sakti Klaten, alm. KH Moeslim Rifa'i Imampuro atau akrab disapa Mbah Liem, konon, orang pertama yang menggelorakan semboyan "NKRI harga mati" pada 1980-90an. Tak terlalu populer pada masa Orde Baru, namun beberapa tahun terakhir semboyan ini kian membahana sehubungan dengan merebaknya isu SARA, politisasi agama, intoleransi dan mencuatnya gerakan separatis, bangkitnya sel-sel tidur perongrong kedaulatan Negara, para pengasong khilafah, serta isu-isu makar menjurus kudeta.

Kita, khususnya generasi milenial, lantas ikut-ikutan latah meneriakkan dan menyebarluaskan slogan itu tanpa tahu apa makna dan tujuannya, bagaimana tali-temali dan penjangkaran nilainya.

Well, apakah Anda juga orang yang setuju begitu saja dengan NKRI harga mati, padahal praktiknya, Negara ini telah tergadai, telah koyak-moyak dan bahkan boyak oleh prilaku para elitnya sendiri, telah terjadi politik pembusukan dari dalam, telah terjadi proses deeksistensi sistemik sejak awal mula Negeri ini berdiri? Bukankah telah sejak lama Sabang-Merauke ini menjadi "bancakan" asing dan terus dicabik-cabik oleh tempurung-tempurung jahat bangsa kita sendiri? Bukankah UUD 1945 telah sekian kali diamandemen oleh para pesulap di Senayan? Apakah kita (khususnya para abdi Negara) telah sungguh-sungguh mengamalkan Pancasila? Masihkah Anda percaya ninabobo NKRI harga mati sementara tanah saja menyewa dan air harus membeli?

Mari kembali ke sejarah: kerajaan Singhasari (1222-1292 M), lantas—dengan wangsa Rajasa—menjadi Majapahit (1293-1527 M), kerajaan Pajang (1568-1586 M), Kutai Martadipura dan lalu berganti Kesultanan Kutai Kartanegara (350-1605 M) Mataram (1588-1681 M), Sriwijaya (650-1100 M) Tarumanegara (358-669), Sunda Galuh alias Pajajaran (1030-1579 M), juga Kesultanan Samudera Pasal (1267-1521 M) adalah Negara-negara yang pernah kokoh berdiri, bahkan sebagian adalah Negara Adidaya di zamannya, yang kini telah ditelan masa silam. Mengapa Pajang hanya berusia 18 tahun lalu redup dan padam, gerangan apakah yang menyebabkan Singhasari bubar hanya dalam 70 tahun? Manakah di antara mereka yang "harga mati" dan bersih dari tawar-menawar sejarah serta intrik-intrik paling licik? Atau harga mati kini harus ditafsir ulang dengan lebih fleksibel menjadi harga asal tak mati?

Nah, kalau Anda (khususnya para pria, termasuk yang tuna asmara dan tuna pustaka) ingin merasakan sensasi hamil muda, tontonlah berita politik, ikuti dagelan-dagelan kelas coro para politikus gemblung niretika, lalu tekuni infotainment dengan khusyuk, lalu berselancarlah di dunia maya, lalu datanglah ke kampus, lalu ke terminal, lalu ke pasar-pasar, seberapa banyak di antara mereka yang cuti nalar dan libur moral? Berapa persen di antara meraka yang membuat Anda mual-mual? Adakah yang bukan kepalsuan dari itu semua? Sekarang, masih adakah NKRI harga mati? 

Nah, kalau mau sungguh-sungguh belajar dari sejarah, mengapa para pendiri bangsa ini mendirikan Negara Republik dengan sistem demokrasi, bukan mengembalikan kejayaan kerajaan-kerajaan besar yang dulu dicabik-cabik Portugis dan Belanda? Mengapa kita tidak percaya diri dengan kenusantaraan kita, lantas menjadi sedemikian Barat, dan belakangan tiba-tiba mabuk Arab melebihi Abu Jahal sendiri? Lebih lanjut, mengapa kerajaan-kesultanan itu runtuh dan lenyap? Bukankah ini juga bertali-temali dengan slogan NKRI harga mati secara historis? Mengapa para pendiri Republik ini mencita-citakan Negara ala Barat, merdeka sebagimana Barat? Bukankah Belanda yang menjajah kita itu malah kerajaan, juga Spanyol, Belgia, Inggris? Mengapa filsafat RN Ronggowarsito, Kajaolalido, Nenek Malamo, Sanjaya, Purnawarman, Resi Kuturar, Empu Nerarte, Jayanaya, dll tidak diajarkan di sekolah-sekolah? Mengapa schooling system dan double system warisan Belanda ini masih kita gunakan? 

Perlu diketahui bahwa tidak ada satu pun dari pembangunan yang tidak ditulangpunggungi oleh kepentingan politis dan hasrat untuk berkuasa. Kerajaan-kerajaan adidaya semacam Majapahit runtuh oleh karena banyaknya tempurung jahat bermental penjilat yang  berebut kuasa dengan perang saudara, bahkan tak kurang dari 127 keturunan Brawijaya V sendiri yang berambisi menjadi raja, belum lagi serbuan Portugis dan bencana alam. Ritme aristokrasinya masih cenderung sama, pola hegemoninya nyaris sama, motif (neo)paternalistiknya juga sama, birokrasi (neo)patrimonialnya juga begitu-begitu saja, klasik, hanya bungkus saja yang dipercanggih di abad 21 ini. Masihkah Anda percaya ninabobo NKRI harga mati?

Dulu Soeharto cuma satu, saat ini semua ingin jadi Soeharto. Dahulu korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) amat sentralistik berdasarkan sistem oligarki berkaki tiga, kini KKN sampai ke level desa dan kampung, bahkan di tempat-tempat ibadah. Tak tanggung-tanggug, sebagian oknum tokoh agama juga ingin menjadi Soeharto dengan tambahan Haji Muhammad di depan namanya. Lalu semua orang kesoeharto-soehartoan, mabuk agama, mabuk politik, mabuk segala kepalsuan. Benarkah masih ada kesadaran kritis dan bukan kesadaran dogmatis pada generasi milenial? 

Masihkah Anda percaya ninabobo NKRI harga mati? Nah, kalau masih percaya, ada banyak hal yang harus kita sudahi, sebanyak yang kita harus mulai, tentu saja dengan tidak lupa ngopi. (*)

salam takzim

Oleh: Ach Dhofir Zuhry*

*Penulis adalah pendiri STF AL-FARABI dan pengasuh Pesantren Luhur Baitul Hikmah Kepanjen-Malang. Buku terbarunya: PERADABAN SARUNG (Veni, Vidi, Santri) dan KONDOM GERGAJI

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis:
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Rochmat Shobirin
Sumber :
Copyright © 2018 TIMES Indonesia
Loading...
Top

search Search