TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Peristiwa - Nasional

Hadiri Deklarasi Ulama se Madura, Presiden Jokowi Tanggapi Isu PKI

19/12/2018 - 13:23 | Views: 48.82k
Presiden Joko Widodo ketika menghadiri Delkarasi Akbar Ulama se Madura di Kabupaten Bangkalan. (FOTO: Doni Heriyanto/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, BANGKALANPresiden Jokowi (Joko Widodo) menghadiri Deklarasi Akbar Ulama se Madura di Gedung Rato Ebu, Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur. Dalam kesempatan itu, Jokowi menanggapi isu PKI (Partai Komunis Indonesia) yang belakangan ini santer dituduhkan kepada dirinya.

"Isu Presiden Jokowi PKI sudah muncul sejak empat tahun lalu," ucapnya saat memberi sambutan di hadapan ulama se Madura, Rabu (19/12/2018).

Pada awalnya, Jokowi mengaku enggan menjawab tuduhan-tuduhan keji tersebut. Akan tetapi, fitnah terhadap dirinya yang disebut sebagai anggota PKI justru semakin berkembang menjadi isu liar di tengah-tengah masyarakat.

"Hari ini saya harus menjawab dan menanggapi isu itu, karena setelah dilakukan survei penelitian ternyata lebih dari sembilan juta orang mempercayainya," terangnya.

Mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut khawatir jika fitnah yang dituduhkan kepada dirinya tidak disikapi, kemungkinan besar orang yang percaya terhadap isu PKI itu akan semakin banyak. Bahkan jumlahnya bisa meningkat menjadi 10-12 juta orang.

"Saya lahir tahun 1961, sedangkan PKI dibubarkan pada tahun 1965-1966. Jadi saat itu, saya baru berumur empat tahun. Mana mungkin saya dituduh anggota PKI, kan tidak ada PKI balita" jelasnya.

Jokowi sangat menyayangkan terhadap maraknya tuduhan PKI akhir-akhir ini. Apalagi, isu itu dikembangkan hingga menyeret nama orang tuanya, kakek dan neneknya yang disebut juga sebagai anggota PKI.

"Ada juga gambar yang beredar di media sosial DN Aidit sedang berpidato pada tahun 1955. Di sampingnya ada sosok yang dibilang mirip saya. Tahun itu saya kan belum lahir," paparnya.

Menurutnya, menyebarkan isu PKI merupakan cara-cara berpolitik yang tidak bertata krama dan tidak beretika. Seharusnya, masyarakat diajarkan berdemokrasi dan berpolitik yang santun sesuai budaya Indonesia.

"Perlu saya sampaikan, bahwa saya dan keluarga adalah seorang muslim. Kalau tidak percaya silahkan di cek ke rumah di Solo. Di era keterbukaan seperti sekarang sangat mudah mengecek," tegas Presiden Jokowi. (*)

Jurnalis: Doni Heriyanto
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Rizal Dani
Sumber : TIMES Madura
Copyright © 2018 TIMES Indonesia
Loading...
Top

search Search