TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Peristiwa - Nasional

Mengapa Harus Mewaspadai Tsunami Selat Sunda? Begini Menurut BMKG

12/01/2019 - 19:44 | Views: 11.05k
ILUSTRASI: Kondisi puing pasca tsunami. (FOTO: Dok. TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Mengapa masyarakat di sekitar Selat Sunda harus tetap waspada potensi tsunami ? Ternyata menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) ada tiga sumber tsunami di Selat Sunda, yakni kompleks Gunung Anak Krakatau (GAK), Zona Graben, dan Zona Megathrust. 

Deputi Bidang Geofisika BMKG Muhamad Sadly menjelaskan, kompleks GAK terdiri dari Gunung Anak Krakatau, Pulau Sertung, Pulau Rakata, dan Pulau Panjang.

"Gunung serta ketiga pulau tersebut tersusun dari batuan yang retak-retak secara sistemik akibat aktivitas vulkano-tektonik. Akibatnya, kompleks tersebut rentan mengalami runtuhan lereng batuan (longsor) ke dalam laut dan berpotensi kembali membangkitkan tsunami," katanya.

Begitu juga Zona Graben yang berada di sebelah barat-barat daya kompleks GAK. Ini merupakan zona batuan rentan runtuhan lereng batuan (longsor) dan berpotensi memicu gelombang tsunami. Sementara itu, Zona Megathrust termasuk pula sebagai wilayah yang berpotensi membangkitkan patahan naik pemicu tsunami.

BMKG sendiri tetap memantau perkembangan kegempaan dan fluktuasi muka air laut di Selat Sunda. "BMKG juga mengimbau masyarakat untuk mewaspadai zona bahaya dengan radius 500 meter dari bibir pantai yang elevasi ketinggiannya kurang dari 5 meter," ujarnya seperti rilis BMKG yang dikutip detikcom, Sabtu (12/1/2019).

Sementara itu, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menambahkan, BMKG juga telah memasang beberapa alat pantau di sejumlah titik di Selat Sunda untuk memantau aktivitas kegempaan dan fluktuasi muka air laut di Pulau Sebesi, Ujung Kulon, dan Labuan.

Pulau Sebesi adalah pulau terdekat dengan kompleks GAK yang saat ini bisa dijangkau untuk pemasangan alat. Pulau ini difungsikan sebagai buoy alam agar dapat memberikan rekonfirmasi lebih dini bahwa gelombang tsunami terjadi. 

Dwikorita juga menambahkan, BMKG merekomendasikan agar dibangun Base Transceiver Station (BTS) khusus di sekitar GAK dan Ujung Kulon agar pemantauan aktivitas kegempaan dan fluktuasi muka air laut lebih maksimal.

Menurutnya juga perlu ditambah instrumentasi dan fasilitas untuk pemantauan muka air laut. Misalnya dengan Tide Gauge atau Sensor Water Level, Buoy, dan Radar Tsunami atau HF Radar. 

"Penambahan peralatan tersebut untuk mempercepat pengiriman data hasil pengamatan aktivitas kegempaan dan fluktuasi muka air laut yang terpantau. Dengan begitu, kita memiliki lebih banyak waktu untuk meminimalisir jumlah korban akibat gempa maupun tsunami di wilayah pesisir Selat Sunda," kata Dwikorita. (*)

Jurnalis: Widodo Irianto
Editor : Widodo Irianto
Publisher : Rochmat Shobirin
Sumber : TIMES Jakarta
Copyright © 2019 TIMES Indonesia
Loading...
Top

search Search