TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Peristiwa - Nasional

Mantan Tahanan Kamp Redukasi Cina, Gulbachar Jalilova Paparkan Kisah Pilunya

12/01/2019 - 21:25 | Views: 32.44k
Matan Tahanan Kamp Redukasi Uighur, Gulbachar Jalilova (FOTO: Rizki Amana/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Mantan tahanan kamp redukasi pelanggaran HAM berat etnis Uighur, Gulbachar Jalilova paparkan pengalaman pahitnya selama 16 bulan ketika berada di kamp yang dibangun oleh Pemerintah Cina tersebut. 

Menurut kesaksian Ibu dari 3 anak tersebut, dirinya yang kerap melakukan perjalanan bisnis Kazakhstan-Cina selama 20 tahun ditangkap oleh Pemerintah Cina pada Mei 2017 dengan tuduhan bahwa ia adalah kelompok dari etnis Uighur. 

"Ketika saya berada di kamp tersebut, saya dimintai KTP Cina saya. Saya memberi tahu mereka bahwa saya adalah orang asing dan bahwa saya tidak melakukan kesalahan," kata Gulbachar (54) saat ditemui di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (12/1/2019).

"Namun demikian, saya terus diinterogasi identitas Uighurnya selama lebih dari satu tahun," jelas Gulbachar. 

Dalam penjelasannya, selama masa penginterogasian dirinya dikurung dalam ruangan yang pengap berukuran 7x6x3 meter. Di ruangan itu ia kerap melihat tahanan Uighur yang disiksa hanya karena gerak-gerik yang menunjukkan  seperti mereka mau beribadah. 

"Kepala menengok ke kanan dan ke kiri saja, dianggap melakukan shalat. Atau mengusap muka, dianggap habis berwudu. Karena gerakan itu, mereka dihukum seperti kaki mereka diberi pemberat seberat 5 kilogram. Ada juga yang kuku-kuku mereka dicabut dan bentuk represif lainnya yang membuat saya stres," kenang Gulbachar dalam pilunya. 

Tak kuat melihat penyiksaan tersebut, Gulbachar mengalami depresi hingga akhirnya empat kali dilarikan ke rumah sakit tahanan yang kondisinya sangat tidak layak. Dalam kisahnya, di rumah sakit itu juga terdapat tahanan seumur hidup atau tahanan Uighur yang dijatuhi hukuman mati. "Mereka tidak dibunuh langsung, tetapi diberi obat-obatan yang mematikan," terangnya. 

Terbukti bukan sebagai etnis Uighur, dia dibebaskan pada 20 September 2018 lalu. Gulbachar Jalilova memang telah menjalani profesi bisnis, selama 20 tahun ia kerap melakukan perjalanan bisnis Kazakhstan-Cina. (*)

Jurnalis: Rizki Amana
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Rochmat Shobirin
Sumber : TIMES Jakarta
Copyright © 2019 TIMES Indonesia
Loading...
Top

search Search