TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Ketahanan Informasi

Syekh Omar Al-Kiswani Terluka, ACT Berduka

17/01/2019 - 14:09 | Views: 26.18k
Kaum Muslimin tidak bisa masuk ke MAsjid Al Aqsha. Mereka dihadang oleh tentara zionis Israel dan hanya bisa melaksanakan shalat di luar kawasan masjid. (FOTO: AJP TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, YERUSALEM – Dukungan Indonesia untuk menjaga Masjid Al-Aqsa terus bergulir, termasuk dari tim ACT (Aksi Cepat Tanggap). Salah satu dukungan itu dikonversi dalam bentuk Dapur Umum Indonesia untuk Jemaah Al-Aqsa.

Syekh Omar Al-Kiswani, salah satu orang yang turut memperjuangkan Al-Aqsa merupakan sosok yang disegani oleh segenap relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang bertugas di Al-Aqsa.

Itu karena Syekh Omar Al-Kiswani turut hadir dan menjadi tamu istimewa dan makan bersama dari Dapur Umum Indonesia di Al-Aqsa pada September-Oktober 2017 silam.

Syekh-Omar-Al-Kiswani.jpg

“Sangat sulit untuk mengundang beliau (Syekh Omar Al-Kiswani) datang ke acara manapun karena ketatnya pantauan Israel terhadap gerakan dirinya. Alhamdulillah beliau menyempatkan diri, secara khusus pun Syekh Omar Al-Kiswani datang karena mengaku bangga dan berterima kasih atas dukungan penuh bangsa Indonesia kepada warga Palestina di Al-Aqsa,” papar Abu Ali, relawan ACT di Yerusalem beberapa waktu lalu.

Diketahui, konflik di Masjid Al Aqsa Yarusalem terus bergulir. Yang terbaru warga Palestina dilarang menunaikan ibadah di masjid tersebut.

Akhirnya ratusan warga Palestina kembali menunaikan shalat Zuhur di depan gerbang masjid berkubah emas bernama Qubbatush Shakhrah atau Dome of The Rock, Selasa (15/1/2019).

Selagi menunaikan shalat, mereka juga menunggu keputusan Polisi Israel atas insiden yang terjadi sehari sebelumnya. Selama ini, otoritas keamanan atas Kota Suci Yerusalem memang berada dalam yurisdiksi Polisi Israel.

Menurut Koresponden Kantor Berita Anadolu Agency di Yerusalem - yang ditulis ulang Al Jazeera - Qubbatush Shakhrah sempat dibuka kembali setelah dikepung polisi Israel selama berjam-jam. Namun, tidak lama setelah masjid berkubah emas itu dibuka lagi, lima warga Palestina yang juga terdiri dari tiga penjaga masjid justru ditangkap.

Insiden pun pecah dengan pemicu awal dilakukan oleh polisi Israel. Menurut Firas Al-Dibs selaku Juru Bicara Jerusalem’s Religious Endowments Authority, perselisihan memanas ketika seorang warga Palestina yang menjadi penjaga masjid, terpaksa menutup masjid setelah seorang polisi Israel coba memasuki masjid tanpa izin, Senin (14/1).

Syekh-Omar-Al-Kiswani-2.jpg

“Para penjaga meminta untuk polisi itu melepas kippahnya (topi yang biasa dipakai lelaki Yahudi) sebelum memasuki masjid, tetapi mereka menolak dan berusaha masuk ke masjid, membuat para penjaga marah dan terpaksa menutup masjidnya,” ungkap Dibs.

Dibs juga memaparkan, Polisi Israel memang terbiasa melakukan pemeriksaan rutin setiap pagi di seantero kompleks Al-Aqsa. Namun, ulah oknum Polisi Israel yang menolak melepas kippahnya itu telah membuat para penjaga masjid meyakini mereka akan melakukan melakukan ibadah Yahudi di dalam masjid.

Padahal sudah ada perjanjian mengenai non-Muslim yang diizinkan memasuki lingkungan masjid Al-Aqsa. Dalam perjanjian tertulis itu, Non-Muslim boleh masuk namun tidak boleh menunaikan ibadah.

Perselisihan itu pun berbuntut makin pelik ketika Otoritas Polisi Israel justru benar-benar menggembok pintu Qubbatush Shakhrah dan tidak mengizinkan siapapun termasuk Umat Muslim masuk meski dengan alasan untuk beribadah.

“Tentara Israel menghalangi orang-orang Muslim untuk menunaikan salat di dalam komplek tersebut,” jelas beberapa petinggi Departemen Waqaf Muslim yang bertugas di Qubbatush Shakhrah.

Baku hantam pun terjadi, ketika polisi Zionis mendorong jemaah dan orang-orang yang ingin beribadah, berlaku represif terhadap jemaah Muslim Palestina yang hendak beribadah di dalam masjid. Bahkan satu yang tak terduga, bentrokan justru membuat Direktur Masjid Al-Aqsa Syekh Omar Al-Kiswani mendapat serangan fisik dari Polisi Israel. Akibatnya, ia pun harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat perawatan.

Merunut bentrokan-bentrokan yang terjadi di dalam Kompleks Suci Masjid Al-Aqsa setahun ke belakang, sosok Direktur Masjid Al-Aqsa Syekh Omar Al-Kiswani begitu disegani oleh tiap Muslim Palestina. Sosoknya dikenal menjadi pemimpin tertinggi dalam pengelolaan Masjid yang juga menjadi kiblat pertama Muslim sedunia itu.

Kejadian bentrokan terbaru yang melukai Syekh Omar Al-Kiswani di Al-Aqsa Selasa (15/1) kemarin, tak ayal membuat kegeraman Muslim Palestina bertambah.

ACT turut berduka atas luka nya Syekh Omar Al-Kiswani. Relawan ACT berharap sang Syekh lekas pulih dan sehat kembali. (*)

Penulis: Dian Laksana (CR-117)
Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Rochmat Shobirin
Sumber :
Copyright © 2019 TIMES Indonesia
Loading...
Top

search Search