TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Peristiwa - Nasional

Gajah Aek Nauli Akan Dikelola Secara Eco Friendly

18/01/2019 - 15:42 | Views: 7.41k
Gajah Aek Nauli. (FOTO: Istimewa)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Pengelolaan gajah di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli akan dilakukan secara Eco Friendly yakni selain menjaga keberlangsungan hidup (konservasi) gajah, juga harus ramah atau tidak membahayakan lingkungan sekitar.

“Salah satunya adalah menentukan daur dan siklus lokasi angon,” kata Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli, Pratiara, S.Hut, M.Si.

Penentuan siklus lokasi ini sangat penting, karena keberadaan gajah di KHDTK Aek Nauli dinilai mulai menyebabkan terjadinya perubahan pada kawasan hutan. Dalam waktu kurang dari satu tahun, lantai hutan menjadi lebih terbuka, karena berkurang atau hilangnya vegetasi untuk tingkat semai dan tumbuhan bawah. Tumbuhan pioner bermunculan sehingga berpeluang menyebabkan perubahan komposisi jenis.

“Selama ini gajah dibiarkan diangon di hutan secara bebas, karena memang belum ada area khusus untuk angon. Jadi pemulihan kawasan hutan harus segera dilakukan,” kata Pratiara.

Tujuan pemulihan kawasan hutan itu untuk mengembalikan komposisi dan struktur vegetasi mendekati kondisi semula sebelum terjadinya gangguan. Dengan demikian, ekosistem hutan KHDTK Aek Nauli dapat kembali menjalankan peran dan fungsinya sebagai kawasan hutan lindung.

Karena itu,  kata dia, diperlukan informasi komposisi dan struktur vegetasi di kawasan hutan, baik pada ekosistem hutan yang masih baik maupun yang telah mengalami gangguan. Tersedianya kondisi acuan merupakan komponen penting dalam kegiatan pemulihan kawasan hutan.

Berdasarkan kajian awal peneliti BP2LHK Aek Nauli, Sriyanti Puspita Barus, S.Hut, diketahui pada ekosistem yang terganggu telah terjadi penurunan kerapatan vegetasi tingkat semai dan pancang. Penurunan vegetasi tingkat semai terjadi sebesar 37%, yaitu dari 82.500 individu/ha menjadi 51.667 individu/ha, dalam setahun pertama keberadaan gajah di Aek Nauli. Bahkan pada tingkat pancang, penurunan kerapatan lebih besar yakni 57%. (*)

Jurnalis: Widodo Irianto
Editor : Widodo Irianto
Publisher : Rizal Dani
Sumber :
Copyright © 2019 TIMES Indonesia
Loading...
Top

search Search