TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Kopi TIMES

Menjadi Sahabat yang Baik

19/02/2019 - 01:22 | Views: 10.25k
Prof Dr Rochmat Wahab, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Periode 2009-2017, anggota Mustasyar PW Nahdlatul Ulama (NU) DIY, Pengurus ICMI Pusat.

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTA – Sahabat itu penting sekali. Tentu, bagi setiap orang dalam perjalanan hidupnya. Sebab, kita sebagai makhluk sosial pada hakekatnya tidak bisa lepas dari orang lain.

Jika hidup kita dalam kesendirian. Hakekatnya, kita akan merasakan kesepian dan hidup tidak ada gairah dan semangat. Bahkan bisa jadi adanya seperti tidak adanya (wujuduhu ka adamihi).

Seperti hidup, tapi hakekatnya mati. Begitu pentingnya makna sahabat bagi kehidupan, maka kita dimanapun dan kapanpun, sangat memerlukan sahabat.

Sahabat pun yang kita inginkan tidak sekedar sahabat. Tetapi, yang memiliki arti penting bagi kehidupan kita. Ingat, Almar-u khaliluhu. Bahwa, seseorang itu tergantung pada temannya. Jika teman itu baik maka kita juga ikut baik.

Perspektif ini benar jika kita gunakan perspektif teman sebagai subjek. Namun sebaliknya, jika digunakan perspektif teman sebagai objek, maka kita bisa menerima teman yang tidak baik karena kita akan memperbaiki teman kita.

Apapun posisinya untuk terbangunnya suatu sahabat yang baik kedua belah pihak bermula dari niat yang baik untuk hidup bersama sebagai sahabat yang mengerti dan menjaga hati masing-masing.

Sahabat yang baik adalah sahabat yang seringkali memperlihatkan secara konsisten. (1) kecenderungan untuk menginginkan apa yang terbaik bagi satu sama lain, (2) perilaku simpati dan empati, (3) saling pengertian, dan (4) berbuat kejujuran, walaupun dalam keadaan yang sulit bagi orang lain untuk mengucapkan kebenaran.

Kemudian, (5) menjaga nama baik dan privacy masing-masing. Ketulusan dan keikhlasan dalam hidup bersama yg terbingkai dalam persahabatan adalah sangat penting.

Begitu bermaknanya keberadaan sahabat. Tidak jarang sahabat yang baik itu lebih berarti dalam kehidupan kita dibandingkan daripada saudara kandung dan keluarga besar kita. Apalagi yang tempatnya berjauhan.

Kita sangat memaklumi bahwa menjaga persahabatan itu tidaklah mudah. Karena itu, dapat diidentifikasi ada beberapa hal yang seringkali bisa menjadi penghancur persahabatan, di antaranya. (1) Adanya kepentingan bisnis yang terselubung, (2) Ketidakterbukaan, dan (3) Kehilangan kepercayaan.

Berikutnya, (4) Perubahan rasa persabatan, (5) Ketidaksetiaan, dan (6) Ketidakjujuran. Sadar akan faktor-faktor ini, maka kita perlu menghindari adanya kecenderungan dan perilaku yang potensial dan dapat menghancurkan persahabatan.

Mengingat berartinya persahabatan. Maka, kita perlu terus berkhtiar bagaimana kita bisa wujudkan dan pertahankan keinginan kita untuk menjaga persahabatan yang baik. Hal-hal yang bisa dilakukan: (1) menjaga kejujuran, (2) mengatasi kesalahan, (3) mudah dan berani minta maaf, dan (4) tulus ucapkan terima kasih.

Kemudian, (5) saling menolong, (6) tidak berburuk sangka, (7) tidak sinis, (8) tidak suka marah, dan (9) tidak mudah buka rahasia teman.

Akhirnya, begitu bermaknanya kehadiran sahabat yang baik dalam kehidupan kita baik dalam keadaan suka maupun duka, baik dalam keadaan longgar maupun kesulitan yang terkait dengan aktivitas kerja formal, sosial, akademik, dan spiritual.

Semoga dengan hati yang tulus dan motivasi positif. Kita bisa membangun dan menjaga sahabat yang baik untuk kebaikan kita semua di dunia dan di akherat. (*)

 

*) Penulis adalah Prof Dr Rochmat Wahab, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Periode 2009-2017, anggota Mustasyar PW Nahdlatul Ulama (NU) DIY, Pengurus ICMI Pusat.
 

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis: A Riyadi
Editor : Faizal R Arief
Publisher : Rizal Dani
Sumber :
Copyright © 2019 TIMES Indonesia
Loading...
Top

search Search