TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Opini

Mengenal Bahaya Cacing Pita dan Pencegahannya

17/02/2019 - 11:18 | Views: 6.13k
Siklus Hidup Cacing Pita (FOTO: Dok. TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, BATU – Mungkin kita sering mendengar kata cacing pita. Tapi pernahkah kita melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana wujud cacing pita ini ? Cacing pita tidak asing lagi di dunia peternakan. Tak heran karena cacing ini hidup sebagai parasit pada babi, sapi, kambing dan domba. Cacing ini juga bisa hidup pada manusia dan bisa menimbulkan masalah pada kesehatan. Infeksi cacing pita pada manusia dikenal dengan nama taeniasis atau sistiserkosis.

Cacing pita berbentuk pipih panjang seperti pita. Cacing dewasa panjangnya bisa mencapai 240-300 cm. Terdiri dari bagian kepala yang memiliki kait-kait kecil dan badannya mengandung 1000 proglotid (bagian yang mengandung telur). Ada tiga spesies cacing pita yang dikenal, Taenia solium, terdapat pada babi, Taenia saginata, banyak terdapat pada sapi, kambing dan domba, dan Taenia asiatica yang banyak terdapat pada babi dan sapi.

Siklus-Hidup-Cacing-Pita2.jpg

Manusia terinfeksi karena memakan makanan yang mengandung  kista cacing pita atau telurnya yang banyak terdapat pada makanan mentah / setengah matang. Telur akan menetas dan cacing pita dewasa hidup dalam usus manusia. Bagian  tubuh cacing yang telah matang dan mengandung telur keluar secara aktif dari anus manusia atau secara pasif bersama-sama tinja manusia. Bila manusia maupun hewan ternak (sapi dan babi) menelan telur maka telur yang menetas akan mengeluarkan embrio (bakal) cacing yang kemudian menembus dinding usus.

Embrio cacing yang mengikuti aliran darah limfe berangsur-angsur berkembang menjadi sistiserkus (cacing gelembung / kista) yang infektif di dalam otot tertentu (manusia, sapi dan babi).  Otot yang paling sering terserang sistiserkus yaitu jantung, diafragma, lidah, otot pengunyah, daerah kerongkongan, leher dan otot antar tulang rusuk. Apabila otot / daging ini termakan manusia maka akan orang tersebut akan  terinfeksi cacing pita.

Manusia yang terinfeksi cacing pita akan mengalami gejala-gejala , diantaranya gatal-gatal pada dubur, mual, muntah, pusing, peningkatan nafsu makan, sakit kepala, diare, lemah, merasa lapar, sembelit, penurunan berat badan, rasa tidak enak di lambung, nyeri perut, letih, pegal-pegal pada otot, gelisah, gatal-gatal di kulit, dan gangguan pernafasan. Infeksi cacing pita bahkan bisa menimbulkan kejang-kejang, stroke, hingga kematian.

Lingkungan yang bersih sangat diperlukan untuk memutuskan siklus hidup cacing pita karena lingkungan yang kotor menjadi sumber penyebaran penyakit. Pelepasan telur cacing pita dalam tinja ke lingkungan menjadi sumber penyebaran. Faktor risiko utama penyebaran telur cacing pita ke binatang ternak yaitu pemeliharaan yang kurang baik, dekat dengan pembuangan tinja manusia sehingga tinja termakan binatang ternak. Selain itu telur cacing ini dapat terbawa oleh air ke tempat-tempat lembap sehingga telur cacing lebih lama bertahan hidup dan penyebarannya semakin luas. Oleh karena itu perlu dijaga kebersihan kandang ternak, pemberian pakan yang cukup, serta vaksinasi hewan ternak jika diperlukan.

Penyebaran penyakit akibat cacing pita dapat dikendalikan melalui perilaku hidup bersih dan sehat, serta pencegahan konsumsi daging yang terkontaminasi. Biasakan untuk mencuci tangan dengan sabun sebelum makan/minum dan sesudah BAB. Pembangunan sarana sanitasi, seperti WC dengan septic tank, serta penyediaan sumber air bersih sangat diperlukan untuk mencegah kontaminasi tanah / tinja pada makanan. Pencegahan konsumsi daging yang terkontaminasi dapat dilakukan melalui pemusatan pemotongan ternak di rumah potong hewan (RPH) yang diawasi oleh dokter hewan. Selain itu memasak makanan / daging sampai matang juga sangat penting untuk mematikan kista cacing pita / telur yang terkandung di dalamnya.

Apabila sudah terinfeksi cacing pita dan timbul gejala-gejala pada tubuh diharapkan segera mencari layanan kesehatan seperti puskesmas / rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan dan agar penyakit tidak berkembang menjadi lebih parah.(*) 

*) Penulis : M. Abdul Aziz, Bekerja pada BBPP Batu (17/2/2019)

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

Jurnalis: M. Abdul Aziz
Editor : AJP-9 Editor Team
Publisher : Sofyan Saqi Futaki
Sumber :
Copyright © 2019 TIMES Indonesia
Loading...
Top

search Search