TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Kopi TIMES

Tips Bertetangga yang Baik

19/02/2019 - 21:02 | Views: 18.41k
Prof Dr Rochmat Wahab. (Grafis: TIMEs Indonesia)

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTA – Pada hakekatnya secara sisiologis kita semua tinggal dimanapun umumnya memiliki tetangga, bertetangga. Baik di wilayah kampung maupun perumahan.

Yang tinggal dengan rumah yang berpagar ramah maupun yang tidak ramah. Yang tinggal secara berkelompok maupun yang terpencil memiliki kondisi situasi yang berbeda juga.

Dimanapun kita tinggal, hidup bertetangga adalah penting. Di kampung yang penghuninya relatif homogin dan di perumahan yang penghuninya relatif heterogin juga ikut menentukan tingkat kemudahan dalam bertetangga.

Di mana pun posisinya, bertetangga yang baik sangat menentukan keharmoninsan, kedamaian dan kebersamaan antar warga.

Bertetangga di wilayah hunian kampung dan perumahan dengan segala variannya tidak bisa dilepaskan dari latar belakang asal usul, pendidikan, status sosial ekonomi, agama, dan budaya warga penghuni.

Bertetangga di kampung dari sisi budaya, suku, dan agama relatif homogin, mungkin faktor pendidikan dan status sosial ekonomi relatif heterogin. Sementara itu, di perumahan dari sisi status sosial ekonomi dan pendidikan relatif sama, tetapi aspek budaya dan agama relatif berbeda.

Di sinilah, sangat dibutuhkan tingkat wisdom untuk menghadapi mitra dalam bertetangga sesuai dengan tuntunan dan kultur yang ada di lingkungan.

Yang penting kemampuan beradaptasi sangat diperlukan. Di lingkungan apapun dengan perilaku welladaptive akan mudah cair bersama tetangga dan masyarakat sekitar.

Bertetangga yang baik dirasakan sekali manfaatnya ketika kita dalam suka dan duka. Kita perhatikan geliat sesama tetangga sama-sama dan saling menghadiri agenda nasional (makam tirakatan hari kemerdekaan). Pada hari besar keagamaan, ketika menerima anugerah anak, waktu khitanan dan resepsi pernikahan.

Demikian pula sebaliknya. Bagaiman empati kita tunjukkan ketika melihat saudara dan tetangga kita yang menerima musibah (gempa, gunung meletus, kecelakaan), menderita sakit, dan wafat.

Suasana rukun dan kompak dalam bertetangga adalah sesuatu yang mahal. Hal itu membuat hidup kita aman dan nyaman walau kita jauh dari kampung halaman, tanah kelahiran.

Bagaimanapun dalam batas tertentu keberadaan tetangga jauh lebih berarti daripada saudara kandung atau keluarga besar yang ada jauh dari rumah kita sekarang. Ketika kita punya hajat atau kena mushibah, tetanggalah yang biasanya lebih awal hadir dan membantu kita.

Menyadari akan berartinya kehadiran tetangga dalam seluruh kehidupan kita di tengah-tengah lingkungan hunian kita, maka tidak berlebihan kita ikuti rambu-rambu dari Rasulullah SAW.

Bagaimana kita bertetangga yang baik. Rasulullah SAW bersabda bertetangga yang baik di antaranya (1) haram menyakiti tetangga, (2) berwasiat berbuat baik kepada tetangga, dan (3) peduli ke tetangga dg memberikan sebagian yang dimiliki (sayur, makanan, kue).

Kemudian, (4) toleran terhadap tetangga (membiarkan memaku di tembok kita), (5) tidak menyakiti tetangga (bahkan tidak sedikitpun), (6) berbuat baik terhadap tetangga, (7) menjadi tetangga yang baik, (8) tidak boleh kenyang sementara tetangga kelaparan, (9) iman akan hilang kecuali dengan mencintai tetangga, dan (10) bersabarlah atas gangguan tetangga.

Masih ada lagi perilaku baik yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW untuk bisa bertetangga dengan baik. Kita sadar betul apa arti kekayaan melimpah, tempat tinggal yang megah, dan kedudukan yang wah. Tetapi, kita hidup dalam kesendirian. Yang dengan kesibukannya tidak memungkinkan untuk berinteraksi dengan tetangga secara rilek dan ramah.

Sagat lah disadari bahwa setiap orang memiliki keunikan masing-masing. Ada yang introvert dan ada yang ekstrovert. Lepas ada plus minus. Setiap pilihan orang untuk membangun huniannya.

Yang penting terus diperjuangkan, bagaimana menciptakan rumahku syurgaku. Rumah bisa memberikan kesempatan penghuninya untuk mudah berinteraksi secara lahiriyah dan melalui dunia maya, yang penting interaksi terjaga sesuai dengan kondisi.

Walaupun tetap tatap muka tidak bisa diabaikan. Sehingga, hubungan antar manusia tetap terjaga. Ingat, bahwa pagar yang paling kuat adalah tetangga yang baik. Bukan pagar dengan tembok dan besi yang tinggi.

Karena itu, bagaimana kita berusaha dapat menjaga hidup bertetangga dengan baik melalui banyak dan rutin dengan shadaqah, amal, dan zakat yang rutin; sholat berjamah bersama warga aktif pertemuan informal dengan warga, bezuk tetangga yang sakut, ta’ziyah kepada tetangga, ikut aktif olahraga bersama warga, rekreasi bersama warga, dan sebagainya.

Akhirnya, kita hidup hadir di tengah-tengah tetangga, hidup bersama tetangga, dan kembali menuju ke peristirahatan terakhir di antar oleh tetangga. Karena itu, hidup bertetangga dengan baik menjadi kebutuhan kita semua. (*)

 

*) Penulis adalah Prof Dr Rochmat Wahab, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Periode 2009-2017, anggota Mustasyar PW Nahdlatul Ulama (NU) DIY, Pengurus ICMI Pusat.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis:
Editor : Faizal R Arief
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan
Sumber : TIMES Yogyakarta
Copyright © 2019 TIMES Indonesia
Loading...
Top

search Search