TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Ekonomi

Rektor Unisma Malang Kagum Omset Toko Istana Tani Omzet Dekati Rp 500 M, Begini Ceritanya

19/02/2019 - 21:32 | Views: 29.24k
Rektor Unisma Prof Dr H Masykuri MSi saat mengunjungi Toko Istani Tani milik Syaikhul Hadi alumni Unisma, Senin (18/2/2019).(FOTO:istimewa)

TIMESINDONESIA, PONOROGOToko Istana Tani milik Syaikhul Hadi, S.Pt, alumni Unisma Malang di Jl. Raya Jetis - Bungkal, Desa Ngasinan, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo mendapat apresiasi Rektor Unisma Malang, Prof Dr H Masykuri MSi saat berkunjung ke sana,  Senin (18/2/2019) malam karena omzetnya yang mendekati Rp 500 miliar.

Syaikhul Hadi adalah alumni Unisma yang sukses sebagai distributor pestisida untuk memenuhi kebutuhan sarana pertanian di wilayah Kabupaten Ponorogo dan sekitarnya.

Rektor-Unisma-Malang-2.jpg

Omsetnya kini mencapai Rp 400 miliar bahkan mendekati Rp 500 miliar. "Untuk kebutuhan daerah sekitar Ponorogo saja kami sudah kuwalahan. Kami belum terpikir untuk ekspor, " ujarnya saat ditanya apakah ia juga melakukan ekspor ke luar Negeri.

Ketika dihubungi TIMES Indonesia.co.id, Selasa dini hari, Syaikhul mengaku kaget atas kunjungan Rektor Unisma yang mendadak Senin malam itu. "Tapi alhamdulillah semua kegiatan tadi malam berjalan lancar," katanya.

Syaikhul Hadi mendirikan toko pertanian Istana Tani ini pada tahun 2008. Waktu itu ia membaca peluang bisnis di bidang

perdagangan pestisida obat-obat

pertanian, pupuk dan benih pertanian terbuka lebar.

Ketika Syaikhul melihat bahwa petani di sekitar desa Ngasinan membutuhkan sarana pertanian yang cepat dan efektif serta efisien ia langsung  mendirikan toko itu. Kisahnya itulah yang kemudian menarik perhatian Rektor Unisma.

Dalam menyediakan kebutuhan pertanian, toko Pertanian Istana Tani ini memang terus berkembang hingga kini telah memiliki 800 customer baik d tingkat retailer maupun di tingkat petani langsung dari beberapa wilayah di daerah Ponorogo dan sekitarnya.

"Pelanggan kami heterogen, mulai dari petani tanaman pangan dan palawija, petani hortikultura, sampai petani perkebunan," kata Syaikhul.

Walau perkembangan pemasaran produk perusahaannya ini sangat pesat, menurut Syaikhul, pihaknya masi h belum berpikir untuk melakukan eksport ke Luar Negeri. "Untuk kebutuhan dalam negeri saja, khususnya wilayah Kabupaten Ponorogo dan sekitarnya, kami sudah kuwalahan," ujarnya.

Indonesia, tambah dia, adalah negara agraris, lahan pertaniannya yang begitu luas dan subur. "Disitulah kami banyak melihat celah. Disitulah  kami masuk untuk memajukan pertanian Indonesia dengan swasembada pangan. Petani perlu banyak untuk kita dampingi karena masih awam masalah pertanian," tambahnya.

Dengan 180 orang karyawannya, Syaikhul mengelola tokonya ini dengan solid dalam komunikasi dan actionnya.

Namun dalam memasarkan produk-produknya, bukan berarti tanpa kendala. Kendala paling utama adalah karena musim yang terkadang tidak menentu.

Kemajuan yang diperolehnya juga karena para supplier pestisida mulai melakukan banyak kerjasama di bidang penjualan dengan berbagai macam program, sehingga itu hal itu menjadikan Toko Pertanian Istana Tani semakin lebih kompetitif, variatif dan lebih lengkap dalam penyediaan kebutuhan sarana pertanian.

Syaikhul mengaku Rektor Unisma Malang, Prof Dr H Masykuri MSi hanya silaturahmi saja saat mengunjungi Toko Pertanian Istana Tani yang omsetnya mendekati Rp 500 miliar malam itu. Tidak ada deal-deal tertentu. "Kami sangat bangga atas kunjungan Rektor Unisma dan sama sekali tidak kami duga sebelumnya. Terimakasih pak Rektor, " kaya Syaikhul. (*)

Jurnalis: Widodo Irianto
Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan
Sumber : TIMES Malang
Copyright © 2019 TIMES Indonesia
Loading...
Top

search Search