TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Politik

Dianggap Sebar Hoaks, BPN Desak Jokowi Minta Maaf ke Rakyat

21/02/2019 - 11:43 | Views: 19.55k
Joko Widodo. (FOTO: Dok. TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Anggota BPN (Badan Pemenangan Nasional) Prabowo-Sandi, Tb Ardi Januar mendesak Capres Petahana, Joko Widodo atau Jokowi meminta maaf kepada rakyat secara terbuka.

Hal tersebut, lantaran Jokowi dianggap telah membuat gaduh dengan memaparkan sederet data bohong, hingga menyerang sisi pribadi Prabowo Subianto yang diindikasi kuat melanggar tata tertib aturan debat.

"Ironisnya, meski terbukti banyak mengutip data yang salah dan telah menimbulkan kegaduhan, Jokowi hingga saat ini tidak pernah mengakui kesalahan dan meminta maaf secara terbuka kepada publik. Dia seperti membiarkan masyarakat berdebat dan beradu urat," katanya dalam keterangannya, Kamis (21/02/2019).

Dia menyayangkan banyaknya Kesalahan data yang dikutip Jokowi.

"Bagaimana bisa seorang kepala negara berkali-kali memberikan keterangan tidak benar. Padahal, Jokowi memiliki instrumen dan perangkat kerja yang sangat lengkap. Dengan percaya diri Jokowi berbicara seakan menganggap orang lain tidak bisa mengkroscek fakta sebenarnya. Ingat, rakyat sudah cerdas," katanya.

Meski demikian, menurut dia, setiap orang pasti tak luput dari kesalahan, sebab, kesalahan adalah sifat manusiawi.

"Tetapi sejatinya seorang pemimpin harus bisa memberikan contoh dengan cara ksatria meminta maaf kepada publik bila kedapatan melakukan kesalahan," katanya.

Tb Ardi Januar melanjutkan, beberapa waktu lalu, Prabowo pernah menjadi korban kebohongan Ratna Sarumpaet. Dengan gagah berani, Prabowo meminta maaf secara terbuka kepada publik. 

"Padahal perlu dicatat pakai stabilo tebal, bahwa Prabowo bukanlah pelaku kebohongan, melainkan korban kebohongan Ratna seperti masyarakat pada umumnya. Sebagai pemimpin, Prabowo menunjukkan jiwa ksatria," katanya.

"Jiwa ksatria yang dimiliki Prabowo belum terlihat dari seorang Jokowi. Hingga kini, dia tidak berani meminta maaf dan mengakui kesalahan apa yang dia ucapkan. Kita khawatir, bila budaya semacam ini terus diterapkan, kebohongan akan menjadi kebiasaan," tambah dia.

Karena itu, sebaiknya Jokowi segera menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada publik, karena telah mengutip banyak data bodong yang berujung pada kegaduhan. Dengan demikian, kita berharap perdebatan di tengah masyarakat dapat dihentikan. Tentunya dengan catatan ke depan jangan ada lagi kebohongan yang disampaikan.

Namun, bila Jokowi enggan menyampaikan permintaan maaf dan tetap merasa benar dengan apa yang telah disampaikan, maka, kata dia, jangan salahkan publik bila kelak memberi label Jokowi sebagai pembohong yang ucapannya tidak bisa dipercaya.

"Bung Hatta pernah berpesan, Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar, kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman, namun tidak jujur itu sulit diperbaiki. Sebelum wara-wiri berkata ingin membangun negeri, sebaiknya Jokowi belajar dulu untuk memperbaiki diri," katanya.

"Bila Jokowi mengalami kesulitan untuk meminta maaf secara tulus dan ksatria, maka belajarlah kepada Prabowo," tambahnya. (*)

Jurnalis: Alfi Dimyati
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Rochmat Shobirin
Sumber : TIMES Jakarta
Copyright © 2019 TIMES Indonesia
Loading...
Top

search Search