TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Kopi TIMES

Misi Ketaqwaan untuk Kemajuan Nusantara

12/06/2019 - 14:28 | Views: 18.68k
Muhammad Yunus, Dosen Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Islam Malang. (Grafis: TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, MALANG – Berpuasalah kamu mudah-mudahan kamu menjadi hamba yang bertaqwa. Itulah misi utama dalam menjalankan ibadah puasa selama bulan Ramadhan. Sebuah sarana dan media yang Allah berikan kepada makhluk-Nya agar menjadi hamba yang baik. Ukuran seorang hamba yang baik adalah bertaqwa kepada Allah SWT.

Makna taqwa sudah banyak diulas oleh para mubaligh, bahkan menjadi pesan khusus dalam khutbah Jum’at. Setiap khatib akan selalu mengingatkan jemaah sholat Jumat untuk senantiasa meningkatkan taqwa kepada Allah SWT karena ajakan untuk bertaqwa ini menjadi rukun dalam khutbah Jumat. Lantas apa kaitannya antara ketaqwaan untuk kemajuan nusantara ini.

Salah satu penjelasan yang sering diulas oleh penceramah Ramadhan adalah nukilan ayat Ali Imran ayat 133-134. Ayat tersebut berbunyi yang artinya “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Dalam ayat tersebut setidaknya Allah menggariskan ciri utama orang yang bertaqwa kepada Allah SWT, yaitu berbagi kepada sesama, menahan amarah, dan memaafkan kesalahan orang lain. Jika renungi ayat ini, ciri utama orang bertaqwa mempunyai dimensi sosial yang sangat tinggi. Dalam ayat sebelumnya disampaikan seruan agar manusia segera memohon ampunan kepada Allah SWT sebagai dimensi vertikal, lantas diteruskan untuk dimensi horizontal ini.

Carut-marutnya kehidupan berbangsa dan bernegara dengan masifnya informasi hoax (bohong) berdampak terhadap mudahnya kita menjadi rakyat pemarah. Masyarakat menjadi terbelah, doktrin kelompok menjadi-jadi, akibatnya terjadilah disparitas kelompok yang terus tajam. Kelompok yang bangga terhadap dirinya, dan kelompok yang selalu menyerang kelompok-kelompok lain. Lupa bahwa mereka sesungguhnya adalah satu yakni Islam. Lantas dimana nilai ibadah yang dilakukan jika perilaku sosial masih saja seperti itu, mengarah pada kebencian, suka menyerang kelompok lain, dan lain sebagainya yang akibatnya berdampak terhadap pembangunan Indonesia itu sendiri.

Disinilah misi ketaqwaan menemukan urgensi untuk selalu diingat dalam kehidupan bermasyarakat. Ketimpangan sosial yang kaya semakin kaya, sementara yang miskin tidak beranjak-ranjak dari kemiskinannya tidak akan terjadi jika kita hobi bersedakah. Menafkahkan sebagian dari harta yang kita miliki untuk orang lain merupakan amalan yang sangat besar karena ini merupakan salah satu asma Allah yaitu arrahman dan arrahim. Sedekah merupakan pancaran kasih sayang yang diberikan antar sesama. Bayangkan jika 2.5 persen yang dimiliki diberikan kepada orang-orang miskin maka tidak akan lagi kita temukan rakyat miskin di Nusantara ini. Jika kita rata-rata berpenghasilan 5 juta perbulannya, 2.5% dari jumlah itu dikalikan jumlah usia pekerja Indonesia yang mencapai sekitar 100 juta penduduk, maka akan didapat dana yang terkumpul sebesar hampir 12 triliyun lebih. Sungguh angka yang sangat besat untuk pembangunan Indonesia.

Misi kedua adalah menahan amarah. Marah adalah sifat yang jelek. Orang yang gampang marah akan kehilangan akal sehatnya. Betapa banyak nasihat agar kita tidak gampang marah. Jangan sampai meniru kepiting. Ketika kepiting marah maka akan dengan mudahnya ditangkap. Orang yang gampang marah akan terus kehilangan akal sehatnya. Sifat yang tidak terpuji ini jika berada dalam sebuah organisasi maka yakinlah organisasi itu tidak akan berkembang karena pasti akan hilang sikap saling pengertian, harmonisasi, komunikasi yang tidak jalan, dan pasti koordinasi akan macet.

Terakhir misi dari ketaqwaan adalah memaafkan kesalahan orang lain. Allah memberikan antonim dari sifat marah dengan suka memaafkan dalam satu petunjuk-Nya. Artinya adalah sifat memaafkan inilah yang harus dikedepankan dan dijunjung tinggi bukan sifat pemarah. Memaafkan bukanlah ciri orang lemah, justru memaafkan adalah ciri orang yang kuat. Hanya mereka yang mempunyai kebesaran hati dan luasnya pikiran yang mampu memaafkan kepada sesama.

Inilah jika tiga ini menjadi karakter orang Indonesia, maka InsyaAllah Indonesia akan menjadi negara yang makmur sentosa, Baldatun Thoyyibatun Wa Rabbun Ghafur.

Aamiin.

*)Penulis: Muhammad Yunus, Dosen Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Islam Malang. 

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis: Muhammad Yunus (CR-057)
Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Rochmat Shobirin
Sumber : TIMES Malang
Copyright © 2019 TIMES Indonesia
Loading...
Top

search Search