TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Peristiwa - Nasional

Naik Ojek Online, Mantan Menag Prof Dr Quraish Shihab Paparkan Fitrah di Hadapan Menag RI

16/06/2019 - 18:02 | Views: 59.37k
Menag RI saat naik ojek online.

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Mantan Menteri Agama Era Presiden Soeharto, Prof Dr Quraish Shihab menghadiri undangan Menag RI untuk ceramah Halal Bihalal di Kantor Kemenag, Sabtu, 15 Juni 2019. Karena kondisi Jalan Thamrin macet, maka bapak dari Najwa Shihab itu harus naik ojek online dari Masjid Istiqlal menuju kantor Kamenag.    

Mengawali sambutan setelah kata muqodimah, Prof Quraish Shihab mengatakan; "Saya hari ini bersyukur bisa hadir di tengah Bapak dan Ibu sekalian. Saya sudah lama tidak berdiri dan ceramah di hadapan orang banyak, tapi karena yang menelepon saya, Menteri Agama, saya masih patuh dan mengiyakan, spontan hadirin ketawa. 

“Saya juga hari ini memiliki kesan istimewa, saya naik ojek dari Masjid Istiqlal ke sini, Jl. MH. Thamrin, saya dibantu dan dipapah oleh polisi sampai duduk di motor. Subhanallah,” selorohnya yang juga disambut hadirin kembali tertawa.

Di hadapan ratusan undangan, Prof Quraish Shihab menyampaikan bahwa Idul fitri itu erat kaitannya dengan asal kejadian manusia. Yakni kembali ke asal kejadian. Fitrah.

Ada beberapa kalimat yang dapat disandarkan kepada kalimat “fitrah.”  Misalnya, kesadaran tentang adanya Tuhan karena manusia memiliki rasa cemas berlebihan, makanya ia perlu shalat dan berdoa memohon perlindungan kepada Tuhan. 

Menag-Ojek-Online-2.jpg

Agama itu adalah fitrah yang memiliki beberapa ciri-ciri. Misalnya, rabbaniyah (agama itu bersumber dari Tuhan) bukan dari Muhammad atau Muhammadanism,  pembawanya. 

Lalu, Insaniyah (kemanusiaan). Secara fitrah, terang Prof Quraish Shihab, kemanusiaan selalu didahulukan dibanding keberagamaan.  "Misalnya, ketika Anda mau wudhu, air terbatas. Tapi ada orang lain yang haus dan kelaparan, Anda pasti pilih, memberikan air itu kepada orang yang memerlukannya, Anda bisa tayamum," tuturnya.   

Orang yang selalu mengutamakan kemanusiaan akan memandang sesamanya sebagai saudara seagama. Jika tidak seagama, mereka dipandang sebagai saudara sebangsa atau setanah air. Mengutamakan kemanusiaan adalah fitrah.

Ciri lain beragama adalah washatiyah. Wasathan atau posisi tengah. "Kita mengenal istilah “moderator atau wasit.” Orang yang selalu diposisikan di tengah dan berlaku adil. Al-Qur’an berkata, engkau adalah ummatan washatan, kuntum khaira ummatin, kamu adalah umat di tengah, umat yang terbaik. Aristoteles berkata, baik itu berada di antara dua yang buruk, atau tengah," paparnya.  

Keberagamaan, sambung dia, juga berada di antara rasa takut dan ceroboh. Kedermawanan itu berada di antara dua sifat, kikir dan boros. Agama adalah legalitas pertemuan dan hubungan baik laki dan perempuan. Keadilan itu cenderung kepada keseimbangan. Agama itu adalah keseimbangan dunia dan akhirat.

Tiga hal yang selalu disepakati oleh semua penganut agama atau kepercayaan adalah menghormati orang tua, ibu dan bapak. Memelihara amanat atau kepercayaan (yang diberikan) dan berlaku adil.

Moderasi beragama, lanjut Quraish Shihab, menyebut ada tiga syarat utama untuk mewujudkan moderasi beragama. 

"Pertama, harus mengetahui kadar pengetahuan Anda. Tanpa pengetahuan yang memadai, Anda tidak bisa melaksanakan moderasi. Kedua, mengendalikan emosi, jangan melampaui batas, hindari emosi keagamaan yang meluap-luap, dan ketiga, Anda harus berhati-hati, jangan gegabah," tuturnya.

Soal agama dan budaya, menurut Quraish, agama itu bersumber dari Tuhan. Budaya adalah hasil karya, karsa, dan cipta manusia. Untuk memahami agama dengan baik, diperlukan pemahaman ilmu pengetahuan dan budaya yang baik. 

Islam itu tidak anti budaya, Islam akomodatif dan dapat menerima budaya baru. Islam di Mekkah dan Madinah itu tidak persis sama, karena ada perbedaan budaya orang Mekkah dan Madinah. Begitu pula Islam di Mesir atau di Irak, termasuk di Indonesia. 

"Tapi prinsip dan nilai-nilainya sama, misalnya mengakui Tuhan itu esa, Muhammad itu adalah nabi dan rasul terakhir. Jangan tinggalkan budaya yang baik. Islam tidak dapat dipisahkan dengan budaya," tandas Prof Dr Quraish Shihab di hadapan hadirin dan Menag RI. (*)

Jurnalis: Imam Kusnin Ahmad
Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Rizal Dani
Sumber :
Copyright © 2019 TIMES Indonesia
Top

search Search