TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Wisata

Disparta Kota Batu Rangkai Wisata Sejarah Purbakala

25/06/2019 - 14:35 | Views: 12.11k
Situs Reco Banteng di Desa Sumbergondo, Kecamatan Bumiaji menjadi salah satu situs yang menjadi bahan literasi Disparta merangkai sejarah Purbakala. (Muhammad Dhani Rahman/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, BATU – Banyaknya peninggalan jaman kerajaan di Kota Batu membuat Dinas Pariwisata (Disparta Kota Batu) berencana untuk merangkaikan cerita sejarah purbakala sebagai sajian wisata sejarah di kota Apel. 

Temuan Candi Rondo Kuning di Kelurahan Songgokerto, Kota Batu, Jawa Timur beberapa waktu lalu mendorong Dinas Pariwisata tidak hanya melakukan esvakasi lanjutan, namun juga berencana merangkai sejarah yang terpendam.

Menurut Plt Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu, Imam Suryono selama ini sudah ada literasi terkait sejarah Kota Batu mendukung bukti-bukti sejarah yang tertinggal saat ini.

Di Kota Batu ada Prasasti Sangguran, sebuah Prasasti yang mengisahkan tentang peresmian Desa Sangguran menjadi sima oleh Sri Maharaja Rakai Pangkaja Dyah Wawa Sri Wijayaloka Namestungga pada 14 Suklapaksa bulan Srawana tahun 850 Saka (= 2 Agustus 928 Masehi).

Dyah Wawa adalah raja terakhir Kerajaan Medang periode Jawa Tengah (atau lazim disebut Kerajaan Mataram Kuno) yang memerintah sekitar tahun 924–929.

Prasasti bertinggi 2 meter dengan bobot 3,8 ton ini dianggap penting karena menyebut raja Medang, yang berpusat di Jawa Tengah, sebagai penguasa di Kota Batu saat itu. Isinya dianggap dapat membantu memecahkan misteri pindahnya pusat kekuasaan dari Jawa Tengah ke wilayah Timur Pulau Jawa.

Selain Prasasti, ada beberapa ceceran situs purbakala di Kota Batu seperti Candi Songgoriti. Candi yang berdiri diatas sumber air panas ini diperkirakan dibangun abad ke IX Masehi.

Melihat bentuk bangunan candi, banyak yang memperkirakan saat Prasasti Sangguran dibuat pada tahun 928 atau abad ke X Masehi, Candi Songgoriti sudah berdiri.

Penemuan candi di bawah Punden Rondo Kuning, di Dusun Krajan, Kelurahan Songgokerto, Kecamatan Batu, Minggu (25/11/2018) bisa menggugah diskusi hangat di kalangan arkeolog dan sejarahwan di Malang Raya.

Situs-Reco-Banteng-2.jpg

Ini karena, selama ini sejarah di Malang Raya banyak dipedomani Prasasti Sangguran yang dibuat tahun 928 Masehi oleh Sri Maharaja Rakai Pangkaja Dyah Wawa bersama dengan patihnya, Rakryan Mapatih Pu Sindok Sri Isanawikrama dari Kerajaan Mataram kuno Jawa Tengah.

Prasasti Sangguran menyebutkan bahwa wanua (desa) Sangguran watak (wilayah) Waharu, dijadikan sima guna kelangsungan sebuah bangunan suci bagi para pandai besi di Mananjung.

Sampai saat ini belum dapat dipastikan tempat-tempat yang dimaksudkan di dalam Prasasti Sangguran seperti Waharu, Sangguran, dan Mananjung, serta bangunan suci yang dimaksudkan.

Banyak yang menduga Mananjung yang dimaksud dalam Prasasti Sangguran adalah Candi Songgoriti. Didasarkan pada bentuk tulisan pada inskripsi-inskripsi pendek yang ditemukan beserta peripih yang lain di dalam sumuran candi. Candi Songgoriti diduga berasal dari sekitar abad IX M. Sedangkan Prasasti Sangguran diterbitkan pada tahun 928 M (abad X M). Dengan demikian sebelum Prasasti Sangguran dibuat, Candi Songgoriti sudah ada.

Sementara Prasasti Sangguran menyebutkan bahwa prasasti ini dibuat sebagai penetapan sima Desa Sangguran bagi kelangsungan bangunan suci di Mananjung.

Banyak yang menduga tempat para pandai besi di Mananjung yang disebut tersebut adalah daerah Songgoriti yang terdapat Candi Songgoriti. Tidak disangka di tahun 2018 ditemukan candi yang hanya berjarak kurang lebih 500 meter dari Candi Songgoriti (masih satu kelurahan).

Penemuan Candi di Punden Rondo Kuning Kelurahan Songgokerto ini memang memancing tafsir sejarah, kalau selama ini kita menyebut daerah Mananjung tersebut adalah Songgoriti, penemuan candi yang baru ditemukan ini, tentu akan menjadi pertimbangan. Ini karena, letak Punden Rondo Kuning lebih dekat dengan penemuan Prasasti Sangguran di Ngandat.

Selain itu ada beberapa situs purbakala yang berbahan dasar sama dengan candi yang ditemukan di Punden Rondo Kuning Songgokerto ini.

Dua petirtaan di dekat Dusun Ngandat yakni Pertirtaan di Desa Beji dan Petirtaan di Dusun Jeding, Desa Junrejo memiliki bahan baku yang sama dengan candi yang ditemukan di Punden Rondo Kuning.

"Hal ini menarik untuk kita diskusikan, karena itu, kita akan mendalami dan merangkai sejarah ini," ujar Imam Suryono menegaskan tekat Disparta Kota Batu untuk merangkai sejarah purbakala di kota ini sebagai sajian wisata sejarah di Kota Batu, Jawa Timur. (*)

Jurnalis: Muhammad Dhani Rahman
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Rizal Dani
Sumber : TIMES Batu
Copyright © 2019 TIMES Indonesia
Loading...
Top

search Search