TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Kopi TIMES

Secangkir Kopi Dalam Menaburkan Benih Nasionalisme Bola

25/08/2019 - 15:45 | Views: 12.51k
Yunan Syaifullah, Secangkir Kopi Dalam Menaburkan Benih Nasionalisme Bola (Grafis:TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, MALANG – Kita Bersaudara. Kita Indonesia. Kalimat itu meluncur dari kedua kapten kesebelasan yang akan bertanding, jelang peluit pertandingan berbunyi. 

Lafal kalimat itu penuh makna. Karena itu, intonasi kalimat itu bukan sekadar pekikan biasa. Kalimat dan pekikan itu begitu nyaring dilantangkan dan terdengar dari lapangan hijau, beberapa pekan terakhir. Khususnya, dalam ajang kompetisi resmi di negara ini. Dari level Liga 1 hingga 2 dan 3. 

Lafal dan pekikan itu meluncur otomatis bukan dalam suasana perayaan kemerdekaan bangsa ini. Seperti umumnya, setiap warga melakukan selebrasi kultural, yakni perayaan Agustusan setiap jelang 17 Agustus sebagai Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia. 

Lafal dan pekikan itu seolah menjadi bentuk tanggung jawab moral para insan bola, dari pemain, wasit, penonton hingga pengelola untuk ikut terlibat aktif dan peduli dalam menyelesaikan masalah sosial yang terjadi di negeri ini.

Fenomena tersebut menggambarkan bahwa sepak bola sesungguhnya tidak berdiri tunggal dengan masalah dan aspek sosial lainnya. Karena itu, retorika pendek kedua kapten jelang pertandingan menjadi peristiwa menarik yang dipertontonkan dari lapangan hijau. Bukan hanya sekadar seni dan permainan bola. Lapangan hijau ternyata bisa dan mampu melahirkan benih nasionalisme. 

Parade nasionalisme di lapangan hijau menjadi perhatian dan perbincangan menarik dari banyak kalangan. Tidak hanya penonton dan penikmat bola. Terlebih, secara masif, pekikan nasionalisme itu ditayangkan secara live dan terus menerus. Tidak hanya, siaran langsung pertandingan bola di salah satu stasiun televisi. Tetapi juga masuk dalam postingan yang tertib dan teratur di media sosial, seperti Instagram dan Facebook.  
Pekikan nasionalisme yang diproduksi secara terus menerus di berbagai kanal televisi dan media sosial, secara tidak langsung mempengaruhi persepsi dan memori para insan bola untuk dipaksa memperbincangkan. Baik itu dengan nalar kritisnya maupun skeptis. 

Realita hal itu menjadi wajar dan logis. Apabila dikaitkan dengan data statistik pengguna Instagram dunia pada periode 2018 telah menyentuh angka 800 juta orang. Peringkat tertinggi, di Amerika Serikat yakni 110 juta pengguna. Nomor dua tertinggi adalah Brazil sebesar 57 juta pengguna. Menariknya, peringkat ketiga justru diraih dan ditempati Indonesia, yakni sebesar 55 juta pengguna. (databoks.katadata.co.id, 2019)
Media sosial adalah ruang yang bisa dan mampu untuk mendekatkan yang jauh menjadi lebih dekat. Intensitas komunikasi dan distribusi informasi makin dipermudah dan tinggi.

Tidak sedikit dari total populasi pengguna Instagram, kasus di Indonesia, bukan hanya pengguna perorangan tetapi juga korporasi. Termasuk para penonton bola, pemain bola, para insan bola dan korporasi yang berhubungan langsung dan tidak langsung dari lapangan hijau. 

Pekikan nasionalisme dari lapangan hijau dalam waktu singkat dan cepat menjadi perbincangan menarik pecinta bola. 

Menariknya, pekikan nasionalisme dari lapangan hijau yang kini sedang berlangsung itu telah mengarah dan menyembul menjadi heroisme baru untuk menggugurkan trauma dan kebencian yang diarahkan kedalam lapangan hijau. 

Sepak bola, harus diakui, telah menjadi kecintaan bagi banyak kalangan. Sepak bola bahkan telah dan mampu menjelma menjadi ideologi untuk kemanusiaan.  

Di sisi lain, sepak bola, juga mampu melahirkan kegilaan. Praktek kegilaan itulah yang menghasilkan konflik kepentingan yang tidak berujung. Kepentingan yang tidak mampu dipenuhi bisa jadi menimbulkan kebencian yang tidak pernah selesai. 

Meski, hari ini, kegilaan dan konflik kepentingan dalam lapangan hijau jauh berkurang karena adanya globalisasi ekonomi yang telah menyentuh lapangan hijau.

Tehnologi yang dibawa serta globalisasi ekonomi kini mengubah wajah sepak bola. Seluruh pihak bisa mengkritisi dan mengamati dengan lebih rinci dan detail segala sesuatu yang berhubungan dengan sepak bola. 

Fox Sports World, yang digagas Rupert Murdoch – raja media dunia—pada awal tahun 2000 dengan menyiarkan secara langsung sepak bola Eropa dan Amerika Latin menjadi titik balik wajah sepak bola berubah drastis.

Siaran langsung sepak bola dari berbagai negara serta dipengaruhi oleh makin tingginya penggunaan internet, dunia sepak bola makin mengecil dan makin mudah diakses. 

Migrasi pemain sepak bola dari negara kecil dan terbelakang menuju ke negara yang menjadi raksasa bola, makin mudah dan tinggi tingkatnya. Bahkan menjadi idola baru di lapangan hijau di negara tujuan. Seperti George Weah dan masih banyak lainnya.

Fragmentasi global yang ditunjukkan itu juga terjadi dan dialami di negara Indonesia. Migrasi pemain bola dari tanah Papua, Maluku, Nusa Tenggara, dan bahkan Timor Timur kala masih bersama Indonesia ke kota besar di Indonesia yang menjadi sentral sepak bola telah terjadi cukup lama. Pemain itu malah merebut hati penonton bola Indonesia dan menjadi idola baru. Sebut saja, almarhum Kadir, yang berdarah Ambon dan menjadi pemain ternama ketika main dan besar di Surabaya; Rully Nere, pemain kelahiran Papua yang besar dan idola di klub Warna Agung dan UMS Jakarta; Rudi William Keltjes;  Bertje Matulapelwa, dan masih banyak lagi. Generasi baru, ada Donny Latuperissa, Marthen Tao, Rahel Tualasamony, Micky Tata, Panus Korwa, Dominggus Nowenik, Miro Baldo Bento Araujo, Patrich Wanggai, Titus Bonai, Feri Pahabol Ricky Kayame, Yabes Roni Malaifany dan masih banyak lainnya.

Sepak bola, masa kini, telah mampu menggeser batas dan identitas nasional dalam sejarah sepak bola itu sendiri. 

Sepak bola membuat setiap orang mudah merasa antusias. Kompetisi sepak bola adalah tempat untuk bermimpi indahnya bagi seluruh komponen bola. Mulai dari pemain, penonton, wasit hingga korporasi. 

Akan tetapi, yang perlu dipahami dalam memahami mimpi itu adalah terjadinya pertautan kultural yang tidak mudah. Meski bila berhasil menggabungkan pertautan kultural itu bisa menjadi kekuatan luar biasa. (*)

*)Penulis Penikmat Bola, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis:
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Sofyan Saqi Futaki
Sumber : TIMES Malang
Copyright © 2019 TIMES Indonesia
Top

search Search