TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Pendidikan

Anak Tukang Becak di Pamekasan Dapat Gelar Doktor

11/09/2019 - 18:54 | Views: 11.19k
Lailatul Qomariyah (27) foto bersama keluarga usai diwisuda di ITS Surabaya. (FOTO: Akhmad Syafi'i/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, PAMEKASANLailatul Qomariyah (27) anak tukang becak di Pamekasan berhasil gelar doktor di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.  

Anak ketiga dari tiga bersaudara ini lahir dari pasangan suami istri Saningrat (43) dan  Rusmiati (40) keluarganya berasal dari Dusun Jinangka, Desa Teja timur, Kecaman Kota Pamekasan. 

Sementara Lailatul Qomariyah (27) mendapat beasiswa sejak kuliah S-1 hingga mendapatkan gelar Doktor di ITS Surabaya dan ditempuh selama lima tahun. Ia mengambil program doktor di Fakultas Teknik Industri ITS Surabaya.

Hari Minggu, 15 September 2019, Lailatul Qomariyah, anak kebanggaan Saningrat itu akan diwisuda. Sedangkan judul disertasi yang ia angkat, yakni Controllable characteristics silica particle and its composite production using spray process. 

Saat sidang terbuka disertasi Lailatul pada 4 September 2019, Saningrat datang bersama enam saudaranya yang juga paman Lailatul.

Saningrat (43) bercerita bahwa dirinya menyekolahkan anaknya dalam keterbatasan ekonomi. "Iya untung anak saya dapat beasiswa kalau tidak dapat biaya siswa saya dapat dari mana uang tersebut,"ungkapnya.

Waktu Lailatul Qomariyah kuliah, menurut Saningrat tidak mampu membelikan speda motor, hannya saja dirinya mampu membelikan speda ontel.

"Jadi waktu anak kuliah S 1 berangkat dari rumah kost menuju kampusnya ITS Surabaya pakai speda ontel. Jadi saya memang tidak mampu membelikan kendaraan sepeda motor mewah,"imbuhnya.

Dalam kesehariannya pekerjaan Saningrat hanya sebagai tukang becak dan ibunya bekerja di perusahaan tempe yang ada di desa setempat. 

"Setiap hari penghasilan dari narik becak tidak menentu kadang dapat Rp 30 ribu dan kadang dalam sehari tidak dapat apa-apa. Sementara istri yang bekerja di perusahaan tempe di gaji Rp. 100 ribu dalam seminggu," ungkap Saningrat (43).

Lebih lanjut, ia bercerita bahwa anaknya yang kelahiran 16 Agustus 1992 tersebut waktu kuliah sambil ngisi les ketika malam. Dalam seminggu dia dikasih Rp 100 ribu. "Uang tersebut untuk digunakan biaya tugas makalah dan untuk makan sehari-hari," ujarnya.

Selanjutnya, pihaknya menjelaskan bahwa semenjak sekolah SD anaknya dikenal anak baik dan sering rajin belajar. Waktu itu dia sering ikut les privat di sekolahnya. Ia lulusan SDN Teja Timur I, SMP 4 Pamekasan, SMAN 1 Pamekasan. 

"Jadi anak saya di sekolah SD sering mendapat ranking belajar," imbuhnya.

Selanjutnya, pihaknya bercerita waktu mau memberangkatkan anaknya kuliah sering mendapat ocehan dari orang. Namun, ocehan tersebut dia tepis dan ocehan tersebut dirinya nilai sebagai motivasi. 

Sebelumnya, Saningrat juga tidak menyangka anaknya bisa kuliah hingga gelar doktor karena waktu itu dirinya tidak punya apa-apa.

"Namum dengan tekad anak saya dan saya hanya membantu dengan do'a Alhamdulillah anak saya dapat gelar doktor," ucapnya.

Sementara Sutarjo Kades setempat, ikut bangga punya warga yang sukses hingga mendapatkan gelar doktor.

"Saya selaku tokoh masyarakat ikut bangga punya masyarakat bisa menyekolahkan anaknya hingga gelar doktor," katanya.

Selanjutnya, pihaknya tidak menyangka anak tersebut bisa kuliah hingga gelar doktor. Kerena pihaknya mengetahui kedua orang tuanya orang yang tidak mampu.

"Saya tidak nyangka anak tersebut bisa kuliah hingga dapat gelar doktor. Karena melihat orang tuanya benar-benar tidak mampu kesehariannya bapaknya hanya jadi tukang becak," ucapnya.

Lailatul Qomariyah (27) saat ditemui wartawan TIMES Indonesia, mengatakan sangat bangga mendapatkan gelar doktor.

"Alhamdulillah dengan berkat do'a dari orang tua saya dapat gelar doktor," ucapnya.

Dalam keterbatasan ekonomi Lailatul Qomariyah, semangat dan yakin bisa mencapai cita-cita yang dirinya impikan.

"Mudah-mudahan dengan gelar doktor ini dapat menjadi contoh bagi generasi anak muda khususnya anak muda yang ada di desa ini," imbuh Laila, sapaannya. (*)

Jurnalis: Akhmad Syafii
Editor : Ferry Agusta Satrio
Publisher : Sofyan Saqi Futaki
Sumber : TIMES Madura
Copyright © 2019 TIMES Indonesia
Top

search Search