TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Ketahanan Informasi

MRI-ACT Bantu Atasu Kebakaran Lahan Sawit di Kalbar

16/09/2019 - 08:03 | Views: 6.47k
Meskipun tidak ada rumah warga di dekat-dekat lahan yang terbakar, dampak asapnya terasa di permukiman warga yang terletak cukup jauh, bahkan hingga ke ibu kota Kabupaten Sambas. (FOTO: AJP TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, SAMBAS – Musim kemarau tak hanya berdampak pada kekurangan air bersih, namun juga ancaman kebakaran hutan. MRI-ACT langsung turun ke lokasi untuk mengatasi dampak kemarau itu.

Seperti kebakaran yang terjadi di lahan perkebunan sawit di Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Dilaporkan sejak Jumat-Miggu (13-15/9/2019) kebakaran tersebut belum padam.

Nikita Darmala dari Tim Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Kalimantan Barat mengatakan, dampak kebakaran begitu luas. Kondisi ini menganggu masyarakat yang tinggal di sekitar tempat kejadian terganggu dengan asap tersebut.

“Memang tidak ada rumah di daerah sekitar lahannya sendiri, jadi tidak ada warga yang terdampak secara langsung. Tapi kabut asapnya malah menyebar ke rumah-rumah warga yang letaknya cukup jauh dari lokasi. Kami yang di kota (Sambas) saja merasa kabutnya cukup tebal sampai ke tempat kami, apalagi yang paling dekat dari lokasi kejadian,” kata Nikita pada TIMES Indonesia, Minggu (15/9/2019).

Lebih lanjut, Nikita mengatakan sejumlah warga mulai mengeluhkan sesak dan gangguan jarak pandang akibat dari asap tersebut.

Lokasi yang sulit dicapai menjadi kendala pemadaman dari kebakaran lahan ini. Nikita mengatakan, daerah yang terletak di perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia juga menjadi kesulitan tersendiri.

“Lokasinya cukup jauh dan harus menyebrang lagi dan kondisi jalan yang kurang bagus. Kalau warga ke sana biasanya hanya lewat saja karena daerahnya sendiri ada di perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia,” imbuh Nikita.

Berdasarkan info dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), per 15 September 2019 pukul 7 pagi, titik api di Kabupaten Sambas sendiri telah mencapai 17 titik. Sementara untuk di Kalimantan Barat telah ada 1.121 titik panas (hotspot) yang tercatat.

Untuk saat ini, MRI-ACT Kalbar tengah berkoordinasi untuk melakukan aksi penanggulangan terkait dengan bencana karhutla, termasuk mencoba berkoordinasi dengan instansi lain. Salah satunya adanya rencana tim untuk bekerja sama melakukan pemadaman dengan Badan Penanggulangan Bencana Nasonal Daerah (BPBD) Kalimantan Barat. (*)

Penulis:
Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Rochmat Shobirin
Sumber :
Copyright © 2019 TIMES Indonesia
Top

search Search