TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Ketahanan Informasi

Pengungsi Konflik Sosial, Tetap Ingin Kembali ke Wamena

09/10/2019 - 15:59 | Views: 9.62k
Gelombang pengungsi yang keluar dari Wamena mencapai angka belasan ribu jiwa. Mereka meninggalkan Wamena untuk sementara, namun akan tetap kembali ke tanah di bagian Kabupaten Jayawijaya itu. (FOTO: AJP TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, SENTANI – 15.544 orang telah meninggalkan Wamena untuk mengungsi pasca konflik sosial Wamena. ACT turut memfasilitasi pengungsi untuk keluar dari Wamena.

Salah satunya Fuad. Saat ini ia tengah mengungsi di posko pengungsuan Masjid Al Aqso Sentani, Jayapura. Ia mengaku tak banyak aktivitas yang dapat dilakukan, ia tak lagi bekerja akibat harus mengungsi di Sentani. Saat itu ia hanya berharap bisa pulang ke kampung kelahirannya di Jember, Jawa Timur.

Fuad merupakan salah satu dari ratusan orang yang saat ini menempati pengungsian di Masjid Al-Aqso. Mereka menempati ruangan seadanya untuk istirahat. Sementara untuk pemenuhan makan, mereka menggantungkan pada makanan siap santap dari dapur umum yang disiapkan berbagai pihak.

“Untuk sekarang saya hanya ingin pulang ke Jember, belum mau ke Wamena masih trauma,” ungkap Fuad kala itu.

Walau keinginannya hanya kembali ke kampung kelahirannya, namun Fuad tetap akan kembali ke Wamena ketika kondisi dapat dipastikan telah kembali aman. Sejak 2003 lalu, ia memboyong keluarganya ke Wamena untuk merantau dan mencari nafkah.

Hal yang sama diungkapkan Herman, warga Wamena asal Pesisir Selatan, Sumatra Barat. Belasan tahun ia merantau ke Wamena bersama keluarganya, namun untuk saat ini ia membawa pulang istri dan anaknya kembali ke kampung kelahiran.

PEngungsian.jpg

Herman, keluarganya, serta puluhan orang lainnya menumpang Pesawat Garuda Indonesia yang difasilitasi ACT, pascakonflik sosial Wamena, Sabtu (5/10).

Mereka keluar dari salah satu distrik di Kabupaten Jayawijaya itu menggunakan pesawat yang disediakan TNI atau menggunakan pesawat sipil tujuan Sentani. Sebagian besar dari mereka mengungsi tanpa membawa harta benda.

Fuad dan Herman merupakan beberapa di antara korban konflik Wamena yang masih ingin kembali ke Wamena. Untuk saat ini mereka hendak kembali ke kampung kelahiran dan berencana akan kembali ke Wamena tanpa keluarga terlebih dahulu.

“Kalau kembali ke sana (Wamena) lagi itu pasti, tapi tanpa keluarga dulu dan belum tahu kapan. Mungkin dua atau tiga bulan lagi menunggu kondisi aman,” ungkap Herman yang bekerja sebagai pedagang di Wamena.

Saat ini keadaan di Wamena berangsur kembali kondusif. Kegiatan belajar mengajar juga sudah mulai aktif sejak Senin (7/10). Meski demikian, kegiatan sekolah masih belum maksimal karena sebagian besar guru dan murid masih mengungsi di luar Wamena. Begitu pula dengan kerusakan-kerusakan bangunan, sebagai dampak konflik sosial yang pecah selama beberapa hari. (*)

Penulis:
Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Rochmat Shobirin
Sumber :
Copyright © 2019 TIMES Indonesia
Top

search Search