TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Ketahanan Informasi

Yuk, Berburu Angpao di Museum History Of Java

18/01/2020 - 08:47 | Views: 22.26k
(FOTO: AJP/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTA – Menghabiskan waktu akhir pekan di Yogyakarta masih bisa dilakukan tak jauh-jauh dari kawasan Malioboro. Yogyakarta memiliki puluhan museum yang masing masing menyimpan koleksi menarik untuk disambangi. Salah satunya yang belakangan mulai digandrungi yakni Museum Histroy of Java atau dikenal dengan sebutan Museum HOJ yang ada di Jalan Parangtritis Km 5.5, Bangunharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Museum ini memiliki ratusan koleksi benda purbakala peninggalan masa prasejarah hingga kerajaan-kerajaan kuno. Mulai dari kerajaan Tarumanegara, Majapahit, Demak Bintaro, Cirebon, juga Mataram Islam.

Tak hanya koleksi purba, museum yang dilengkapi teknologi augmented reality, video mapping, dan fasilitas theater itu, sejak akhir 2019 meluncurkan program anyar. Yang memanjakan wisatawan lewat atraksi tematik, mengikuti berbagai momentum perayaan di Indonesia juga dunia.

Berburu-Angpao-2.jpg

Misalnya, menyambut perayaan Tahun Baru Cina atau Imlek tanggal 25 Januari 2020 ini, pengunjung yang datang akan disuguhi nuansa museum penuh lampion dan para pemandu berkostum merah.

Menyambut perayaan imlek ini, pengunjung yang datang di museum itu selama dua hari berturut-turut bisa mendapatkan voucher surprise hadiah yang mereka ambil di Pohon Angpao di komplek museum itu.

“Hadiahnya di Pohon Angpao berbagai macam, mulai dari tiket gratis sampai juga bermacam merchandise,” ujar Elly T.Halsamer, CEO Marcom DTopeng Kingdom Group selaku pengelola museum HOJ, Sabtu (17/1/2020).

Museum itu juga sempat memberi kejutan cukup heboh pada para pengunjungnya berbarengan momentum Heloween Oktober 2019 lalu. Bagaimana tidak, saat pengunjung ramai sedang asyik menyimak pemandu tentang riwayat benda purbakala, tiba-tiba mereka dikejutkan munculnya suara jeritan dari sebuah lorong museum yang tak lama kemudian berganti isak tangis. 

Pengunjung tambah kebingungan bercampur takut ketika suara aneh itu reda, muncul sosok berwujud hantu dari balik lorong dan membuat mereka spontan saling berteriak. Sosok hantu itu sendiri merupakan petugas museum yang menyamar memberi kejutan wisatawan sebelum akhirnya membagikan permen dan selfie bersama.

Kejutan lain di museum itu berlanjut saat momentum Natal Desember 2019 lalu. Para rombongan pengunjung yang datang dikagetkan petugas berpakaian sinterklas sampai tokoh pewayangan yang membagikan permen hingga cokelat.

Elly menuturkan di era ini, menurutnya butuh konsep managerial baru agar museum jadi sesuatu yang tak membosankan bagi generasi muda.

“Museum sudah saatnya tampil lebih gaul dan memahami psikologis pegunjungnya, dalam arti bisa memberi pengalaman tersendiri saat berkunjung,” ujarnya.

Berburu-Angpao-3.jpg

Ia menilai, tidak cukup museum hanya lepas tangan setelah menyajikan benda benda koleksinya dalam rak dan membiarkan pengunjung memahami sendiri apa yang mereka lihat dan temukan.

“Museum, bagaimanapun perlu memiliki story teller, selain didukung kecanggihan digital juga layanan yang membuat pengunjung merasa betah,” ujarnya.

Direktur Humas Museum HOJ Yogyakarta, Ki Bambang Widodo mengatakan adanya program tematik ini sekaligus mewujudkan konsep museum modern interaktif. Di mana pengunjung perlu diberi pengalaman berbeda melalui sentuhan berbagai indra yang dimilikinya.

“Dengan program tematik ini pengunjung tak gampang merasa bosan karena mendapat pengalaman seru. Seluruh inderanya diajak aktif, baik mata, telinga, dan lainnya,” ujarnya.

Sejak mulai beroperasi akhir 2018 lalu, museum HOJ sendiri sudah mengembangkan beberapa wahana. Termasuk untuk menangkap kunjungan wisatawan pada malam hari. Seperti adanya event Happening di wahana mirip kawasan Malioboro mini bernama Little Malioboro Street yang terletak satu kawasan  dengan museum itu.

Di wahana Little Malioboro Street yang ada di Museum History Of Java tersebut, pengunjung dapat memuaskan hasrat berselfie ria dengan latar replika deretan pertokoan berkonsep vintage & retro mirip Malioboro masa lalu. Sambil berfoto ria di wahana yang tiap akhir pekan menyajikan parade budaya itu, pengunjung juga bisa menyantap berbagai aneka kuliner khas mulai dari bakmi godog sampai angkringan di bawah lampu lampu temaram. (*)

Penulis: Elly T. Halsamer (CR-171)
Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Sofyan Saqi Futaki
Sumber :
Copyright © 2020 TIMES Indonesia
Top

search Search