TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Ketahanan Informasi

Marak Muncul Kerajaan Fiktif, Ini Penjelasan Dosen FIB Unair Surabaya

27/01/2020 - 18:34 | Views: 58.83k
Dosen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga, Adrian Perkasa S.Hum., M.A. (FOTO: AJP/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Maraknya kerajaan fiktif yang muncul membuat Dosen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unair Surabaya Adrian Perkasa S.Hum., M.A. berkomentar.

Ia menghubungkan fenomena tersebut dengan perspektif revivalisme.

“Saya pikir dan pas sekiranya kita menganalisis fenomena tersebut dengan konsep revivalisme,” paparnya Adrian mengawali topik soal kemunculan keraton abal-abal.

FIB-Unair-2.jpg

Lebih lanjut Adrian menjelaskan revivalisme menurut Henley dan Davidson (2008) yaitu ide akan kebangkitan kejayaan suatu masa keemasan kerajaan pada masa lalu. Adrian menjelaskan, munculnya istilah revivalisme berawal dari tradisi kristiani kemudian berkembang hingga kini.

“Kemunculan revivalisme di Indonesia akhir-akhir ini sangat berkaitan dengan perkembangan pasca-reformasi,” jelasnya.

Adrian mengungkapkan bahwa sebenarnya fenomena itu sudah mengemuka secara massif sejak lunturnya otoritas yang sentralistik. “Pada awalnya, reformasi menunjukkan optimisme terhadap perubahan ke arah yang lebih baik justru menghasilkan tatanan yang dianggap lebih kacau,” imbuhnya.

Di tengah derasnya arus modenisme segelintir masyarakat masih meyakini unsur magis dan keinginan membangkitkan kejayaan nusantara seperti dulu. Fenomena itu muncul tak hanya di Jawa. Contohnya di Sumbawa tiba-tiba muncul kerajaan dimana terdapat masyarakat adat. Pendukung kerajaan tersebut bukanlah masyarakat adat, justru perusahaan besar.

“Kita bisa lihat bahwa revivalisme semacam ini rentan ditunggangi oleh tokoh-tokoh yang sengaja ingin memanfaatkan keyakinan orang-orang tertentu,” jelas dosen yang pernah menempuh studi S1 Hubungan Internasional itu.

FIB-Unair-3.jpg

Hal itu merupakan kesempatan besar bagi beberapa tokoh tertentu untuk berkuasa, mencari uang, atau menungganginya untuk kepentingan ekonomi, politik, dan lainnya.

Terdapat berbagai faktor masyarakat Indonesia yang rentan percaya terhadap kerajaan fiktif tersebut. Pertama, meyakini kepercayaan dengan sungguh, masih percaya akan adanya unsur magis dari seorang tokoh. Kedua, karena faktor struktural, dimana situasi pasca-reformasi dianggap lebih kacau sehingga banyak orang mencari alternatif.

“Fenomena ini mirip dengan maraknya orang-orang yang berobat di pengobatan tradisional dari pada pengobatan mengikuti ilmu medis yang berkembang. Mencari jalur alternatif lain,” ujar Adrian.

Meski demikian, Adrian menyayangkan penangkapan Raja dan Ratu KAS tersebut. Menurutnya, belum tentu mereka melakukan tindakan pidana. “Jika korban merasa tertipu tinggal dilaporkan saja, tinggal pihak berwajib mengusutnya,” ujarnya.

Adrian menyarankan masyarakat untuk meningkatkan literasi, tidak mudah menertawakan atau memviralkan, dan juga harus melibatkan peran sejarawan.

“Sekali lagi sejarawan juga harus sering tampil ke publik, karya-karyanya juga harus dikonsumsi untuk masyarakat,” jelas Dosen FIB Unair Surabaya itu. (*)

Penulis: Dr. Suko Widodo (CR-135)
Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan
Sumber :
Copyright © 2020 TIMES Indonesia
Top

search Search