TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Peristiwa - Daerah

Gereja Katolik Maria Diangkat ke Surga Gelar Misa Khusus Imlek

28/01/2020 - 07:57 | Views: 53.71k
Umat Katolik Gereja Maria Diangkat ke Surga saat menyelenggarakan Misa Khusus Imlek. Romo yang memimpin misa juga membagikan angpao. (FOTO: Widodo Irianto/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, MALANGGereja Katolik Maria Diangkat ke Surga di Jalan Bunga Lely, Kota Malang, Jawa Timur, Senin (27/1/2020) malam merayakan Misa Khusus Imlek yang dirangkai kegiatan bertema kebersamaan.

Umat Katolik gereja tersebut mengikuti misa khusus dengan penuh khidmat. Momentum perayaan Tahun Baru Imlek digunakan untuk saling menumbuhkan semangat saling meneguhkan bekal langkah mereka menapaki kehidupan di tahun selanjutnya.

Misa Khusus Imlek di Gereja Katolik Maria Diangkat ke Surga tahun ini adalah misa yang ke empat diselenggarakan.

"Memang tidak setiap tahun diselenggarakan. Gereja kami menghargai adat istiadat, kebudayaan atau tradisi Tionghoa. Kami ini orang Tionghoa,  tapi seratus persen Indonesia," kata Kordinator Panitianya, Hendrono kepada TIMES Indonesia.

Umat-Katolik-gereja-Maria-Diangkat-Ke-Surga-b.jpg

Karena itu dalam rangka Tahun Baru Imlek ini, kata Hendrono, pastor paroki mengadakan misa khusus Imlek ini untuk menghormati dan melestarikan tradisi di Indonesia ini, yakni perayaan Imlek.

"Ini untuk menjelaskan kepada umat bahwa, bahwa Imlek ini tradisi atau budaya bukan agama. Karena itu dalam pelaksanaan misa pun kita tetap berada pada rel liturgi yang berlaku di dalam gereja," ujarnya.

Karena momentumnya Imlek, maka nuansa di dalam gereja pun serba merah. Merah adalah lambang budaya Tionghoa yang bermakna keberanian untuk mengusir yang jahat. Mulai jubah yang dikenakan para pastor hingga baju umat gereja pun bernuansa merah.

Bukan hanya nuansa merah yang ditonjolkan dalam Misa Khusus Imlek itu. Dalam beberapa nyanyian persembahannya juga diwarnai adanya Muyu. Muyu adalah alat penjaga ritme suara.

Ada empat Romo yang memimpin Misa Khusus Imlek itu, yakni Romo Agung Prasetyo, Romo Eko Atmono, Romo Luki dan Romo Vidy.

Umat-Katolik-gereja-Maria-Diangkat-Ke-Surga-c.jpg

Romo Agung Prasetyo adalah pastor dari Yayasan Karmel di Jalan Talang yang secara khusus diminta untuk menjadi salah satu pimpinan misa malam itu karena kebetulan ia adalah keturunan Tionghoa dan pernah  menjadi penginjil selama 9 tahun di China.

Karena itu dengan gamblang, Romo Agung Prasetyo bisa menceritakan tentang Imlek. "Jadi, Imlek di negeri China sana itu ternyata tradisi untuk berkumpul dengan seluruh sanak keluarga. Makan bersama, saling menceritakan pengalaman dan harapan-harapan. Setelah itu yang tertua di keluarga itu mengajak berdoa. Setelah itu anak-anak kecil diberi angpao dari yang tua-tua itu," tuturnya.

Jadi, makna pemberian angpao (bungkus merah) itu, kata Romo Agung Prasetyo, agar anak-anak itu dijauhkan dari si jahat. Begitu juga dengan baju warna merah sebagai lambang api. "Menurut tradisi di China warna merah akan mengusir si jahat," ujarnya lagi.

Usai Misa Khusus Imlek diakhiri, acara dilanjutkan dengan tradisi penampilan barongsai dan makan bersama. Didahului dengan pemberkatan buah jeruk oleh Romo Agung Prasetyo.

Buah jeruk itu dibagikan kepada umat  Gereja Katolik Maria Diangkat Ke Surga yang mengikuti Misa Khusus Imlek saat mereka keluar dari gereja menuju hall tempat disediakannya bermacam menu makanan sambil menikmati pertunjukan barongsai. (*)

Jurnalis: Widodo Irianto
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok
Sumber : TIMES Malang
Copyright © 2020 TIMES Indonesia
Top

search Search