TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Peristiwa

Dihina di Medsos, Risma Memaafkan Tapi Proses Hukum Tetap Berjalan

06/02/2020 - 09:42 | Views: 33.11k
Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini (Foto: TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, SURABAYAWali Kota Surabaya, Tri Rismaharini mengaku memaafkan penghinanya di media sosial. Ia juga meminta warga Surabaya memaafkan pelaku. Meski demikian, ia tetap menyerahkan kasus itu pada aparat penegak hukum.

Sebelumnya, Risma - panggilan akrabnya, melaporkan penghinaan oleh akun Facebook bernama Zikria Dzatil. Pemilik akun yang merupakan ibu rumah tangga asal Bogor, Jawa Barat itu telah ditahan dan ditetapkan sebagai tersangka oleh Polrestabes Surabaya.

Namun Risma mengaku sudah memaafkan Zikria. Ia juga meminta warga Surabaya, terutama pendukungnya, tak memperpanjang masalah.

"Jadi kepada warga Surabaya mari kita hilangkan kebencian.  Jangan karena saya, kita saling bermusuhan. Saya ndak ingin seperti itu," ujarnya di rumah dinas Jl Sedap Malam, Surabaya, Rabu (5/2/2020).

"Saya berharap seluruh warga saya kalau masih mencintai saya tolong dimaafkan. Mari sama-sama berbesar hati untuk bisa memaafkan. karena sekali lagi tuhan pun memaafkan orang yang bersalah," imbuhnya.

Menurut Risma, ia tidak mempermasalahkan jika dianggap jelek dan tidak pantas memimpin Jakarta, seperti diyakini penghinanya. "Saya juga jadi wali kota Surabaya ndak minta. Jabatan bagi saya pantang untuk diminta. Saya tidak pernah mau. Sekali lagi ayolah sejelek apapun, saya ini ciptaan Tuhan," ucapnya.

Meski sudah memaafkan, Risma mengaku tetap menyerahkan kasus tersebut kepada pihak Polrestabes Surabaya. "Urusan hukum saya serahkan pak Kapolres," ujarnya.

Ia juga mengungkapkan jika pelaporan itu adalah sebagai pribadi, tak ada sangkut pautnya dengan jabatannya sebagai pimpinan daerah. "Saya pribadi yang melaporkan, saya laporkan pribadi, bukan atas nama siapa pun. Saya yang tanda tangan sendiri," ujarnya.

Mengaku tak punya akun media sosial, Tri Rismaharini menegaskan waktunya sebagai Wali Kota Surabaya hanya dihabiskan untuk memikirkan warga. "Jadi teman-teman boleh lihat, saya tidak sempat melakukan itu. Tidak ada sedikit pun memerintahkan atau apa pun yang misalkan bela-bela saya atau membaik-baikkan saya, tidak pernah. Makanya saya juga kaget, salah apa saya disebut kodok," ujarnya. (*)

Jurnalis: Rochmat Shobirin
Editor : Ronny Wicaksono
Publisher : Dhian Mega
Sumber : Berbagai Sumber
Copyright © 2020 TIMES Indonesia
Top

search Search