TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Peristiwa Daerah

Hanya Jadi Penonton, Puluhan Warga dan Pengusaha Lokal Datangi PT IGG

20/02/2020 - 15:03 | Views: 89.82k
Puluhan warga dan pengusaha lokal mendatangi kantor PT IGG, di Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi. (FOTO: Syamsul Arifin/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, BANYUWANGI – Puluhan warga dan pengusaha lokal datangi kantor Pabrik Gula Glenmore atau PT Industri Gula Glenmore, Banyuwangi, Jawa Timur. Kamis (20/2/2020). Para putra daerah ini marah lantaran hanya bisa jadi penonton operasional pabrik gula terbesar di Indonesia tersebut.

Awalnya, rombongan masyarakat Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore, hanya ditemui Manajer Pengadaan dan Pemasaran PT IGG, Dwi Aryanto. Padahal, sesuai permintaan yang sudah dikoordinasikan, massa ingin bertemu langsung Direktur Utama (Dirut), Yudi Kristanto. Hal ini membuat warga kecewa karena aspirasi tidak didengar pimpinan.

“Buat apa kami menyampaikan tujuan jika tidak dipertemukan dengan pimpinan,” ucap Abdul Wahab, salah satu warga dengan nada keras.

Setelah warga marah, barulah Dirut PT IGG menemui perwakilan warga dan pengusaha lokal Glenmore. Dalam forum, disampaikan seluruh uneg-uneg masyarakat. Khususnya terkait ulah S, oknum karyawan bagian pengadaan PT IGG, yang disinyalir memotong kompas penjualan sejumlah komoditi perusahaan yang sebelumnya melibatkan pengusaha lokal dalam proses pemasaran.

Yudi-Kristanto.jpgDiretktur Utama PT IGG, Yudi Kristanto. (FOTO: Syamsul Arifin/TIMES Indonesia)

“Lalu kita warga dan pengusaha lokal ini mau kerja apa, mau bayar karyawan dengan apa jika pekerjaan kami dipotong kompas,” ungkap Rifki Alamudi, dari perwakilan pengusaha lokal Glenmore.

Dengan kata lain, konsumen yang biasanya disuplai para pengusaha lokal, kini langsung menerima barang dari S, si oknum karyawan PT IGG. Padahal, para pengusaha lokal lah yang membuka pasar.

Dan yang lebih membuat gerah, oknum S, mengambil alih konsumen seluruh perdagangan komoditi PT IGG yang mulanya dikelola pengusaha lokal. Mulai dari penjualan Gula Scrab basah, tetes hingga gula SNI.

“Masak kita warga dan pengusaha lokal hanya disuruh jadi penonton saja,” imbuh Kiki, sapaan akrab Rifki Alamudi.

manajemen-PT-IGG.jpgPuluhan warga dan pengusaha lokal berdiskusi dengan manajemen PT IGG di Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi. (FOTO: Syamsul Arifin/TIMES Indonesia)

Mendengar keluhan, Dirut Yudi Kristanto, sempat kaget. Maklum pegawai aktif PTPN XII ini baru bulan Februari 2020 ini dipercaya menjabat pimpinan di Pabrik Gula Glenmore. Kepada warga dan pengusaha lokal, dia berjanji akan segera menyelesaikan benang kusut yang berpotensi menjadi pemicu konflik tersebut.

“Jika ada karyawan yang melakukan jual beli seperti yang disampaikan, akan kita tindak tegas,” katanya.

Yudi juga mengaku akan menampung aspirasi warga dan pengusaha lokal Glenmore. Dengan harapan kedepan bisa bersinergi dalam mendorong kemajuan dan produktivitas PT IGG.

Sementara itu, masyarakat juga meminta manajemen Pabrik Gula Glenmore untuk lebih memperhatikan tumbuh kembang pengusaha lokal. Salah satunya dengan tidak lagi mempersulit jalinan kemitraan pada jenis pekerjaan yang bisa ditangani oleh warga dan pengusaha lokal Glenmore. Namun jika aspirasi dalam pertemuan hanya dianggap sebelah mata, warga mengancam akan menggelar demo besar-besaran. (*)

Jurnalis: Syamsul Arifin
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Sofyan Saqi Futaki
Sumber : TIMES Banyuwangi
Copyright © 2020 TIMES Indonesia
Top

search Search