TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Wisata

Menengok Tradisi Sunatan Orang Kadai Pulau Taliabu Maluku Utara

27/02/2020 - 14:16 | Views: 30.29k
Wartawan TIMES Indonesia bersama orang Kadai (Foto: Istimewa)

TIMESINDONESIA, PULAU TALIABU – Di kabupaten Pulau Taliabu, Provinsi Maluku Utara, sedikitnya ada tiga suku lokal pertama yang menghuni daratan Pulau Taliabu.

Taliabu merupakan Kabupaten yang dulunya 1 wilayah dengan Pemerintahan  Kabupaten Kepulauan Sula. Tetapi di  tahun 2013 lalu, dimekarkan menjadi daerah otonomi baru (DOB) menjadi Pemerintahan Kabupaten Pulau Taliabu.

Tiga suku ini adalah Suku Kadai, Suku Mange dan Siboyo. Suku Kadai adalah masyarakat lokal yang menepati pesisir pantai, suku Mange adalah masyarakat lokal yang tinggal di pegunungan sedangkan Suku Siboyo menempati dataran rendah tetapi bukan di pinggiran pantai.

Satu tradisi yang menarik untuk di tengok adalah tradisi Sunatan orang Kadai di Desa Penu. Meski memeluk agama Protestan,  hingga kini tradisi Sunatan ini masih terus dilakukan oleh mereka.

Menurut warga lokal Desa Penu,  kegiatan sunatan ini sudah dilakukan turun temurun dari generasi ke generasi hingga saat ini. Bahkan sebelum Tete dan nene moyang orang kadai memeluk agama.

"Tradisi ini sudah ada sebelum Tete moyang kami memeluk agama.  Sudah sangat lama sekali,  jadi sampai sekarang kami masih melakukan tradisi ini meski pernah dilarang oleh pendeta. Kalau sunatan,  yang kasih sunat kami itu dari Basudara orang Islam"  Kata Yance Nyalo anak dari Kepala Desa Tua kepada Times Indonesia.

Sunatan orang Kadai ini hanya dilakukan oleh pria yang sudah remaja, mulai dari 18 tahun ke atas. Yance mengatakan, tradisi ini biasanya dilakukan lebih dari 1 orang yang terdiri dari beberapa keluarga yang berbeda.

Tradisi Sunatan ini  tidak dilakukan setiap tahun. Terahir sunatan ini dilakukan pada tahun 2017. Orang yang ingin disunat harus siap secara fisik sementara keluarganya harus siap secara finansial. 

Kesiapan fisik kerena ketika seorang pria telah disunat, ia harus siap dirumahkan di panggung dan akan menjalankan ritual lainnya yakni berpuasa. Pihak keluarga harus siap secara finansial karena sunatan ini membutuhkan biaya yang besar.

"Mereka yang di sunat harus siap fisik, kalau sudah sunat mereka  kami taruh dirumah panggung yang telah disiapkan, setelah itu mereka berpuasa dalam beberapa hari. Tradisi sunatan ini butuh biaya besar, makanya yang sunatan harus lebih dari 1 orang biar bisa patungan uang. Karena banyak saudara yang datang dan nginap disini. Jadi sebagai tuan rumah acara harus siapkan  uang makan," tambah Yance.

Kegiatan Sunatan ini biasanya berlangsung 1 minggu  hingga 1 bulan lebih. Mulai dari rencana kegiatan, baku kabar  Basudara sampai dengan kegiatan sunatan.

Suku Kadai di Taliabu tersebar di beberapa Desa, Yakni Desa Buambono di Utara Taiabu, 4 Desa di Kecamatan Taliabu Timur dan Desa yang ada di Taliabu Timur Selatan hingga di daratan Pulau Mangoli Kabupaten Kepulauan Sula. Meski ada di beberapa Desa, Namun hanya  Desa Penu yang masih melakukan tradisi tersebut.

Safrudin Abdulrahman SOS. MA Dosen Di Universitas Khairun Ternate, salah satu akademisi antropologi yang sering meneliti aktivitas warga lokal di Taliabu, kepada TIMES Indonesia menjelaskan sunatan yang dilakukan oleh orang Kadai disebutnya dengan istilah Mangkano. Dan sunatan ini berbeda dengan Sunatan yang dilakukan oleh umat muslim pada umumnya.

"Sepengetahuan saya, sunatan yang dilakukan oleh orang Kadai,  warga lokal di Pulau Taliabu itu tidak seperti sunatan yang dilakukan oleh umat Islam pada umumnya. Mereka berbeda, sunatan itu disebut dengan istilah Mangkano, Mangkano itu sunatan yang mereka paham dan mereka lakukan ini terbilang ekstrim," Jelas Safrudin.

"Saya sudah meneliti aktifitas orang lokal Taliabu, termasuk tradisi Sunatan atau Mangkano tadi. Mangkano ini dilakukan oleh pria yang sudah baligh, sudah remaja. Dibalik mangkano ini ada pelajaran penting yang ingin di sampaikan kepada pria yang menjalankan sunatan, yakni kerasnya kehidupan," sambungnya.

Saifudin menuturkan, hingga kini ia belum mengetahui asal muasal tradisi Mangkano itu. Tapi harapnya, tradisi  mangkano ini dapat dibantu oleh pemerintah untuk terus dilestarikan.

"Mangkano orang Kadai itu langka, itu satu aset budaya orang lokal Taliabu yang oleh pemerintah harus terus di jaga. Ingat,  wisatawan mancanegara datang ke Indonesia itu hanya mau melihat keaslian kita,"  (*)

Jurnalis: Husen Hamid (MG-224)
Editor : Ronny Wicaksono
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan
Sumber : TIMES Maluku
Copyright © 2020 TIMES Indonesia
Top

search Search