TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Foto: Serba-Serbi

Tradisi Bersih Desa Warga Using Banyuwangi

08/06/2019 - 19:01 | Views: 10.89k

TIMESINDONESIA, BANYUWANGI – Pada Lebaran hari ke-dua tanggal 6 Juni 2019 kemarin, warga Using di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi kembali menggelar tradisi bersih desa, yang dikenal dengan ‘Barong Ider Bumi’.

Tradisi ini menjadi atraksi yang menarik bagi ratusan wisatawan yang tengah menghabiskan liburannya di Banyuwangi, Jawa Timur.

Barong Ider Bumi adalah ritual tolak bala (bencana) yang sudah turun temurun dilakukan warga desa Using (suku lokal setempat) sejak ratusan tahun yang lalu. Ritual ini digelar setiap 2 Syawal, atau lebaran hari kedua. Tradisi ini ditandai dengan mengarak barong mengelilingi desa yang diakhiri dengan kenduri masal oleh warga di sepanjang jalan desa.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, Banyuwangi konsisten menjaga tradisi warganya sebagai bentuk mempertahankan kearifan lokal. Anas meyakini bahwa, kearifan lokal yang dibangun para leluhur itu dimaksudkan untuk menjaga keseimbangan alam dan kehidupan warganya.

Ini adalah cara nguri-nguri budaya yang ditradisikan oleh Banyuwangi. Banyuwangi boleh saja maju, Banyuwangi juga boleh berkembang, tapi budaya Banyuwangi tidak boleh tertinggal dari pergaulan global. Oleh karena itu, sesibuk apapun, kami akan terus menjaga kelestarian budaya.

Bupati Anas juga menyampaikan ucapan terimakasih kepada pemerintah pusat khususnya Menteri Pariwisata RI Arief Yahya yang telah mendukung perkembangan pariwisata Banyuwangi.

Ritual adat Barong Ider Bumi digelar sore hari, yang diawali ritual sembur othik-othik, yakni ritual melempar uang receh yang dicampur beras kuning dan bunga, yang mana melambangkan usaha warga untuk membuang sial dari desa Kemiren.

Usai sembur othik-othik, seluruh warga mengarak tiga barong Using yang diyakini bisa mengusir bencana. Tampak Bupati Anas turut berbaur bersama warga dan sesepuh desa mengikuti prosesi selamatan bersih desa tersebut sambil mengendarai kereta kencana menuju sisi barat perbatasan desa.

Setelah sampai, mereka kembali ke timur batas desa untuk melakukan kenduri masal sebagai puncak sekaligus penutup tradisi tersebut. 

Menu kendurinya pun khas masyarakat Using, yakni pecel pitik, berupa suwiran ayam kampung yang dibakar dan dicampur dengan bumbu parutan kelapa. Puluhan tumpeng ‘pecel pitik’ ditata rapi berjajar disepanjang jalan desa.

Masyarakat dan pengunjung pun beramai-ramai melakukan kenduri. Sangat meriah namun tetap sakral.

Fotografer: Roghib Mabrur
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Rochmat Shobirin
Top

search Search