TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Foto: Cerita

Kota Pasuruan: Ikon Kota Tua dan Kota Pusaka Jawa Timur

12/07/2019 - 12:12 | Views: 37.44k

TIMESINDONESIA, PASURUAN – Prasasti Cunggrang, tertanggal 18 September 929 ditemukan di Dusun Sukci, Desa Bulusari, Kecamatan Gempol, Pasuruan. Prasasti yang ditulis Mpu Sindok di era Mataram Kuno ini menandakan bahwa dulu ada pernah ada Kota Tua yang disebut Pasuruhan, yang kini disebut Kota Pasuruan.  

Sebuah kajian juga membuktikan bahwa Kota Pasuruan dulu pernah jaya dengan nama Tanjung Tembikar, sebagai salah satu kota bandar, kota pelabuhan kuno pada zaman Kerajaan Airlangga.

Tradisi sebagai kota bandar atau pelabuhan terus berlanjut sampai penguasaan pemerintah Belanda. Kota Pasuruan sebagai sebuah residen kemudian terbentuk pada tanggal 1 Januari 1901. Sedangkan Kotapraja (Gementee) Pasuruan terbentuk berdasarkan Staatblat 1918 No.320 dengan nama Stads Gemeente Van Pasoeroean pada tanggal 20 Juni 1918.

Cerita panjang sejarah itu membuat Kota Pasuruan disebut juga Kota Pusaka. Sejumlah bangunan tua menjadi simbol yang melekat sebagai Kota Pusaka.

Pemkot Pasuruan berupaya melindungi dan merawat bangunan tua tersebut agar ikon Kota Pusaka yang melekat tidak pudar. Pemkot mencatat, sedikitnya ada sekitar 110 bangunan tua yang patut dijadikan cagar budaya. 

Seperti Rumah Darussalam di Jalan Soekarno Hatta, Trajeng, Gadingrejo. Ada juga Rumah Singa di Jalan Hasanudin. Bangunan milik keluarga Han ini diperkirakan dibangun sekitar tahun 1825.

Sejumlah bangunan kuno beraksen China juga banyak ditemukan di kota tua ini. Misalnya, Klenteng Tjo Tiek Kion, di Jalan Lombok, dan gedung Wolu di Jalan Seoekarno Hatta.

Selain itu, ada Gedung Harmoni. Gedung tua di Jalan Untung Suropati ini sempat digunakan sebagai tempat pertemuan dan rumah dansa pada zaman kolonial Belanda. Catatan itu masih belum lengkap karena ada sejumlah gedung lain yang bercirikan arsitektur Arab dan tradisonal Jawa.

Pemkot Pasuruan berupaya terus untuk mendorong dan mempertegas perlindungan terhadap sejumlah bangunan tua itu sebagai cagar budaya. 

Di samping menjaga nilai, budaya dan sejarah Kota Tua Pasuruan, upaya pelestarian ini juga dimaksudkan untuk mendorong Kota Pusaka Pasuruan sebagai ikon destinasi wisata budaya di Jawa Timur. 

Karena sejatinya, saat Anda melintas atau berkunjung ke Kota Pusaka Pasuruan, Anda sebenarnya sedang berkujung ke sebuah kota bandar yang dulu sangat ramai dikunjungi pedagang manca negara. 

Semoga Kota Pasuruan tidak hanya dikenal dengan ikon Kota Tua saja melainkan Kota Pusaka yang dulu dipenuhi dengan kejayaan budaya dan tradisi. (*)

Fotografer: Adhitya Hendra
Editor : Faizal R Arief
Publisher : Rizal Dani
Top

search Search